Perencanaan tata ruang

Berdasarkan ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, penyusunan rencana tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan antara lain daya dukung dan daya tampung lingkungan. Akan tetapi, pada kenyataannya pertimbangan daya dukung ini belum diinkorporasikan dalam penyusunan rencana tata ruang karena tidak tersedianya data yang lengkap mengenai daya dukung tanah, air, udara, dan ekosistem wilayah. Dengan demikian, peruntukan lokasi yang ditetapkan dalam rencana tata ruang tidak selalu sesuai dengan daya dukung lingkungan. Akibatnya, kualitas lingkungan yang diharapkan dapat dijaga melalui produk rencana tata ruang, malahan mengalami kemerosotan.

Di samping itu, proses perencanaan tata ruang yang seharusnya melibatkan peran serta masyarakat (Pasal 4 Undang-undang Penataan Ruang), belum dilaksanakan sepenuhnya menurut ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Hal ini disebabkan belum siapnya aparat pemerintah/daerah untuk melaksanakan proses perencanaan yang partisipatif.

Rencana Tata Ruang wilayah nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara, yang meliputi tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan serta struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional, sebagai pedoman dalam pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Rencana tata ruang memiliki fungsi yang sangat vital dalam upaya pelestarian lingkungan hidup oleh karena itu rencana tata ruang harus disusun dengan mempertimbangkan aspek lingkungan hidup secara proporsional disamping mempertimbangkan aspek fisik sosial ekonomi dan pertahanan keamanan. Terkait dengan perencanaan tata ruang harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Unit analisis mencakup satu kesatuan eco-region

Sebagaimana diketahui kinerja pembangunan di satu wilayah/kawasan tidak dapat dilepaskan dari wilayah/kawasan lainnya,mengingat adanya pola hubungan saling mempengaruhi antar wilayah/kawasan. Pencapaian hasil pembangunan di wilayah perencanaan akan sangat dipengaruhi oleh kinerja pencapaian hasil pembangunan di wilayah lain yang memiliki keterkaitan. Pola hubungan antar wilayah/kawasan tersebut tidak terbatas pada hasil-hasil pembangunan, tetapi juga pada dampak negatif yang ditimbulkan.

Adanya hubungan saling mempengaruhi tersebut harus diakomodasi dalam penyusunan rencana tata ruang, yakni dengan memperbesar unit analisis yang tidak terbatas pada wiayah perencanaan, tetapi mencangkup wilayah di sekitarnya dalam satu eco-region. Dengan kata lain, perencanaan tata ruang harus dilakukan dengan pendekatan eco-region. Dengan pendekatan ini, suatu wilayah/kawasan dalam satu eco-region harus dipandang sebagai satu sistem interaksi yang komplementer antara ekosistem, tatanan budaya,dan pontensi sumberdaya alam. Suatu wilayah/kawasan tidak lagi dipandang dari aspek struktural ruang dan pola pemanfaatannya, melainkan interaksi antara manusia dengan ruang (termasuk pola perilaku) dan sistem nilai penyangga kehidupan mereka.

b. Perhitungan neraca lingkungan sebagai dasar alokasi pemanfaatan sumberdaya

Agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan tanpa mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, perlu dilakukan penyusunan neraca lingkungan, yakni upaya untuk mengumpulkan data dan informasi tentang kondisi berbagai jenis sumberdaya alam yang terdapat disuatu daerah. Berdasarkan neraca lingkungan tersebut, dilakukan perhitungan kebutuhan sumberdaya, sediaan sumberdaya, dan kemampuan pemulihan keseimbangan lingkungan hidup setelah intervensi manusia yang selanjutnya diterjemahkan dalam menetapkan lokasi pengembangan dan intensitas kegiatan budidaya dalam rencana pola pemanfatan ruang.

Dalam penyusunan neraca lingkungan perlu diperhatikan prinsip bahwa pemanfaatan sumberdaya alam tidak hanya untuk kepentingan saat ini, namun juga kepentingan generasi yang akan datang. Di samping itu, harus disadari bahwa apabila pemanfaatan sumberdaya alam melebihi kemampuan pemulihan keseimbangan lingkungan akan berakibat pada ketidak-seimbangan ekosistem, sehingga menimbulkan gangguan alam (natural disturbance) dan kerusakan bentang alam (landscape damage). Gangguan alam dan kerusakan bentang alam selanjutnya akan mengakibatkan bencana seperti banjir dan tanah longsor.

c. Memperhitungkan daya dukung dan daya tampung lingkungan

Daya dukung dan daya tampung lingkung adalah aspek penting yang harus diperhitungkan dalam perencanaan tata ruang. Memperhitungkan daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam perencanaan tata ruang dimaksudkan agar pemanfaatan ruang berdasarkan rencana tata ruang nantinya tidak sampai melampau batas-batas kemampuan ligkungan hidup dalam mendukung dan menampung aktivitas manusia tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kemampuan tersebut mencakup kemampuan dalam menyediakan sumberdaya alam, dan kemampuan untuk melakukan perbaikan kualitas lingkungan apabila terdapat dampak yang mengganggu keseimbangan ekositem.

Untuk mengatahui daya dukung lingkungan, diperlukan analisis yang mendalam terhadap berbagai aspek fisik, antara lain struktur batuan dan jenis tanah, kemiringan lahan, sistem tata air wilayah, serta pola tutupan vegetasi. Berdasarkan analisis ini, wilayah perencanaan dapat digambarkan menurut potensi pengembangannya, termasuk kawasan–kawasan yang memiliki potensi terkena bencana longsor. Pada tahap ini, penguasaan teknologi berikut kemampuan aplikasinya juga dapat diperhitungkan mengingat teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Contoh perhatian terhadap daya dukung lingkungan dalam perencanaan tata ruang adalah perhatian terhadap aspek geologi. Terkait dengan hal tersebut, dalam perencanaan tata ruang dikaji berbagai aspek geologi untuk mendapatkan data dan informasi tentang keadaan geomorfologi suatu daerah,potensi sumberdaya air (tanah),potensi sumberdaya mineral dan energi, kemampuan tanah sebagai fondasi bangunan, serta berbagai bencana geologi seperti gempa bumi, letusan gunung api,tsunami,dan gerakan tanah.

d. Alokasi ruang yang sesuai antara jenis kegiatan dan karakteristik ruang/lokasi

Hasil analisis neraca lingkungan, daya dukung lingkungan, dan daya tampung lingkungan merupakan landasan bagi perumusan alokasi ruang untuk berbagai jenis kegiatan masyarakat sesuai dengan potensi pengembangannya.

Pada kawasan-kawasan yang secara fisik harus dilindungi atau memberikan perlindungan terhadap bagian wilayah lain harus ditetapkan sebagai kawasan lindung. Sebaliknya kegiatan-kegiatan yang bersifat intensif harus diletakkan pada lokasi yang aman dari ancaman bencana seperti tanah longsor, bajir, tsunami dan sebagainya.

Khusus untuk kawasan rawan bencana longsor,pengaturan jenis dan intensitas kegiatan harus dilakukan secara hati-hati.pertama, hal ini dimaksudkan agar kegiatan yang akan dikembangkan tidak semakin meningkatkan potensi kejadian bencan longsor. Kedua, dimaksudkan untuk meminimalkan kerugian yang terjadi apabila terjadi bencana longsor, baik kerugian harta benda milik masyarakat, lingkungan permukiman, prasarana dan sarana, maupun nyawa manusia.

Kawasan rawan bencana longsor pada umumnya merupakan kawasan dengan kemiringan curam dengan struktur batuan yang tidak stabil dan memiliki curah hujan tinggi. Pada kawasan seperti ini, apabila tidak ditetapkan sebagai kawasan lindung, jenis kegiatan yang sesuai adalah kegiatan kehutanan atau perkebunan dengan jenis tanaman yang memiliki perakaran kuat dan tajuk rimbun. Perakaran yang kuat berfungsi untuk menstabilkan tanah, sementara tajuk yang rimbun berfungsi untuk menahan air hujan agar mengalir secara perlahan dan tidak menggerus tanah.

e. Penyusunan rencana detail tata ruang untuk operasionalisasi rencana umum.

Secara administratif, rencana tata ruang disusun secara berhirarki mulai dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN),Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP),dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK). Rencana-rencana tersebut adalah rencana yang bersifat umum yang pada umumnya memerlukan perencanaan yang lebih rinci untuk operasionalisasinya.

Penyusunan rencana detail tata ruang didasarkan pada berbagai pertimbangan, antara lain dalam rangka pengembangan pusat-pusat pertumbuhan, revitalisai kawasan pusat kota, pengembangan permukiman skala besar,dan sebagainya. Pada kawasan-kawasan rawan bencana longsor juga perlu disusun rencana detail tata ruang yang didasarkan pada pertimbangan penyelamatan lingkungan dari ancaman bencana. Dalam rencana detail tata ruang kawasan rawan bencana longsor, arahan pengembangan kegitan budidaya dibatasi pada kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan karakteristik kawasan. Selain itu, rencana detail tata ruang juga memuat arahan pembangunan infrastruktur pencegahan bencana seperti bendungan, dinding penahan gerakan tanah, dan sebagainya.

f. Konsistensi antar-tingkatan rencana

Sebagaimana dikemukakan di atas, rencana tata ruang disusun secara berhirarki-berhirarki mulai dari rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Proninsi (RTRWP),dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK).di samping untuk mengarahkan pemanfaatan ruang dan pengendalian pada lingkup wilayah perencanaan, rencana tata ruang yang disusun oleh tingkat pemerintah yang lebih tinggi merupakan pedoman bagi penyelenggaraan penataan uang di tingkat pemerintah yang lebih rendah, termasuk dalam penyusunan rencana tata ruang.

Dilihat dari subtansinya, RTRWN berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang yang memiliki nilai strategis nasional (sistem nasional). RTRWP berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfataan ruang yang merupakan sistem provinsi dengan memperhatikan sistem nasional yang ditetapkan dalam RTRWN. Sementara RTRWK berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang di wilayahnya dengan memperhatikan hal-hal yang telah diatur dalam rencana tata ruang pada hirarki diatasnya.

Mengingat tujuan akhir dari penyelenggaraan penataan ruang adalah untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional secara merata di seluruh wilayah indonesia, diperlukan konsisistensi pengaturan antara RTRWN,RTRWP dan RTRWK. Terkait dengan pengelolaan kawasan rawan bencana longsor,rencana tata ruang di semua tingkatan harus memuat aturan yang konsisten terkait dengan kriteria dan penetapan kawasan lindung, kawasan budidaya,dan kawasan rawan bencana longsor. Agar konsistensi rencana tata ruang antar-tingkat pemerintah dapat diwujudkan diperlukan:

-dialog yang intensif dalam proses penyusunan rencana tata ruang;

- kepatuhan tingkat pemerintah yang lebih rendah terhadap ketentuan-ketentuan yang telah diatur   dalam rencana tata ruang di atasnya.

g. Keterlibatan pemangku kepentingan dalam penyusunan rencana tata ruang.

Rencana tata ruang adalah pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam pemanfataan ruang dan pengendalian pemanfataan ruang. Oleh karenanya, efektivitas implementasi rencana sangat ditentukan oleh komitmen para pemangku kepentingan terhadap ketentuan-ketentuan rencana tata ruang. Dalam hal ini keterlibatan pemangku kepentingan sangat diperlukan dalam penyusunan dan perencanaan tata ruang. Masyarakat harus dilibatkan dan berperan aktif dalam penyusunan rencana tata ruang. Sosialisasi bagi masyarakat terhadap penyusunan rencana tata ruang harus dilaksanakan sebelum pengesahan rencana tata ruang. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.

About these ads

Tentang in'am

hi, my name Inam, I live in the exotic Sulawesi Island of Indonesia. For awhile,I work as social worker in the international ngo's that concern in forest conservation.

Posted on Januari 22, 2009, in Kebijakan Konservasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: