Mengamati aktivitas bersarang Burung Allo di Napu

allobirdSaat ini, antara bulan September sampai November, merupakan bulan yang sangat berarti bagi burung allo. Masa tersebut merupakan musim kawin dan bersarang mereka. Burung allo hanya bertelur setiap tiga tahun sekali dan hanya satu anak yang ia besarkan. Karena laju reproduksinya yang rendah dan banyaknya ancaman yang dapat mengganggu populasinya, burung allo termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi undang-undang.

Salah satu tempat yang mudah untuk perilaku bersarang burung allo berada di desa Wuasa. Desa Wuasa ini terletak di Lembah Napu Kecamatan Lore Utara, pada ketinggian 900 m dpl. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, setidaknya terdapat dua sarang yang saat ini sedang digunakan untuk allo untuk bertelur.

Suasana pagi di hutan pinggiran desa pada akhir september lalu masih diselimuti oleh kabut, pemandangan khas daerah pegunungan. Gumpalan awan putih tebal melayang ringan menutupi punggung bukit hutan TN. Lore Lindu di sebelah barat Desa Wuasa, Lembah Napu. Rumput dan semak liar masih basah tersiram air hujan semalam, menebarkan aroma hutan yang khas dan menyegarkan.

Tidak jauh dari desa, di pinggiran hutan kawasan taman nasional, banyak terdapat pohon ficus (sejenis beringin), tumbuh disepanjang aliran sungai kecil yang jernih airnya. Di sinilah burung allo mencari makanan, buah-buah ficus yang sudah masak adalah makanan utamanya.

Agak siang sekitar pukul sepuluh pagi, terlihat sekelompok burung Allo (rangkong sulawesi) terbang dari balik bukit dan hinggap pada batang pohon Leda (Eucalyptus deglupta) berwarna hijau kecoklatan yang tegak berjejer di punggung bukit. Meski dari jarak 100 meter lebih, burung ini dengan mudah dapat ditangkap oleh lensa binokuler karena ukurannya yang begitu besar. Ada sepuluh ekor Allo yang sedang bercengkerama di pohon leda itu. Agaknya mereka baru saja menyantap buah-buah ficus untuk makan paginya.

Menyaksikan puluhan burung Allo dalam kelompoknya merupakan pemandangan yang sangat menarik. Mereka saling bercengkerama satu sama lainnya dengan saling mematukkan paruh ukuran besarnya. Melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan lincah dan begitu mudahnya meski tubuhnya begitu besar. Dengan suara keras dan sengaunya, kelompok Allo itu menciptakan suasana gaduh yang riang, dan merekapun terlihat penuh kegembiraan. Kadang dalam satu kelompok besar allo bisa terdapat delapanpuluhan ekor hinggap di satu pohon, bisa dibayangkan betapa gaduhnya suasana.

Diantara pohon-pohon ficus di tepi sungai kecil, berdiri pohon dadap hutan (Erythrina sp) dengan diameter 80 cm yang diatasnya terdapat lubang besar memanjang. Lubang itu berjarak sekitar limabelas meter dari permukaan tanah. Sepasang Allo sibuk keluar masuk lubang pohon dadap hutan itu. Rupanya mereka baru membangun sarangnya, nampak lumpur yang masih basah berwarna coklat menempel pada pinggiran celah lubang pohon itu. Sarang di pohon dadap itulah yang akan ditempati sepasang allo itu untuk meneruskan keturunannya. Telur akan menetas setelah dierami selama empat puluh hari. Setelah itu, selama enam bulan sang betina akan terkurung dalam sarang yang juga dibuat olehnya, mengandalkan si jantan memberi nafkah pada ia dan anaknya. Setelah enam bulan ia akan keluar dari sarangnya, karena ruang dalam sarang terlalu sempit seiring semakin besarnya tubuh sang anak. Sang anak masih tetap dalam sarang sampai usia delapan bulan setelah menetas, dan makanan masih disuplai kedua orangtuanya.

Burung allo atau dalam nama Indonesia disebut rangkong sulawesi, merupakan salah satu burung endemik Sulawesi. Dari hasil survei burung yang dilakukan TNC pada tahun 2005 lalu, burung ini termasuk salah satu dari enam spesies kunci yang penting bagi indikator kelestarian Taman Nasional Lore Lindu. Saat ini diperkirakan masih terdapat ribuan ekor burung rangkong yang menghuni Taman nasional Lore Lindu.

Dari 54 jenis yang ada di dunia terdapat 14 jenis burung rangkong tersebar di
seluruh Indonesia, dan 3 jenis endemik Indonesia. Tiga jenis yang endemik Indonesia itu ialah Penelopides exarhatus (Kangkareng Sulawesi) dan Aceros Cassidix (Julang Sulawesi) keduanya hanya ada di Sulawesi, serta Aceros averitti (Julang Sumba) hanya ada di Sumba. Semua jenis Rangkong di Indonesia dilindungi oleh undang-undang dan terancam kepunahan akibat berbagai faktor.

###

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s