Sidang adat dan illegal logging di Desa Sedoa

suasana-sidang-31Oni menangis saat duduk ditengah lembaga adat dan tamu undangan. Persidangan adat yang berlangsung dalam bahasa Sedoa itu sangat menguras emosi. Atmosfer yang terbangun sangat kuat dan cenderung magis. Dalam baruga (rumah adat) Berbentuk limas empat persegi panjang, panggung dengan dimensi panjang dan lebar 6×4 meter, dengan hiasan kepala kerbau di atasnya. Ketua lembaga adat membuka acara dan membacakan berita acara persidangan dalam bahasa lokal sedoa. Duduk sejajar dibawah bersama dengan tersangka.
Oni memang terbukti bersalah, karena ia mencuri kayu dari dalam kawasan tnll.
Cukilan peristiwa ini terjadi di Desa Sedoa Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso.

Desa Sedoa sebuah desa dengan luas 88.888 ha. mempunyai jumlah penduduk sekitar 950 KK, sebagian tanah wilayahnya adat menjadi kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
Lembaga adat menjadi bagian dari budaya masyarakat yang ada di sekitar kawasan lore lindu. dalam tatanan sosial dan pemerintahan desa lembaga, lembaga adat menjadi pusat pemegang kekuasaan.

Masyarakat adat Tawaelia-Sedoa sudah empat kali menggelar sidang adat. Ada dua sudut pandang yang bisa muncul dari digelarnya sidang adat ini tentang efektifkah sidang adat ini. Sejak disahkannya KKM di kecamatan Lore Utara, sudah sebelas kasus yang ditangani oleh lembaga adat. Ada dua point yang harus dicermati, penguatan budaya masyarakat dalam hal ini lembaga adat dan adanya pengambilan putusan kasus illegal logging secara lokal. Kondisi ini menggambarkan adanya kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan konflik kehutanan dan persolan lingkungan di daerahnya sendiri.

Dengan sudut pandang yang berbeda, justru muncul persepsi ketidakefektifan KKM untuk menjembatani persoalan konflik kehutanan, utamanya antara masyarakat dengan pihak Balai TNLL. Terdapat opini bahwa semakin banyak kasus yang disidang oleh adat semakin tidak efektif KKM. Bahkan telah menunjukkan kesalahan-kesalahan asumsi masa lalu yang memandang sepele kemampuan penduduk lokal dalam mengelola sumber daya hutan secara baik dan berkelanjutan. Kajian mereka mengungkapkan bahwa komunitas lokal sebenarnya memiliki dan mampu mengembangkan institusi-institusi yang kondusif bagi pengelolaan sumber daya berkelanjutan: ajeg secara ekologis, ekonomis maupun sosial budaya.

denda-kerbau

Di tengah kegamangan kondisi peradilan dan terseok-seoknya hukum di negeri ini. Sidang adat memberikan alternatif bagi pelanggaran kasus tindak pidana kehutanan. Dalam skala kecil sidang adat ini cukup efektif dan efisien dalam penindakan kasus kehutanan.

Gbr. samping: Denda adat berupa kerbau diserahkan kepada Ketua Adat Sedoa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s