Kain Kulit Kayu, Budaya Lore Lindu Yang Mulai Pudar

Kerajinan Kain Kulit Kayu

Kerajinan Dari Kain Kulit Kayu

Pada tahun 1893, Albert C. Kruyt seorang misionaris belanda yang lahir di Jawa, datang ke Sulawesi Tengah tepatnya di Poso dengan tujuan mengabarkan agama kepada suku-suku asli pedalaman Sulawesi Tengah yang masih menganut kepercayaan animisme. Kruyt yang juga antropolog ini dikenal sangat piawai dan menguasai bermacam bahasa lokal, tak kurang tujuhbelas tahun ia habiskan hanya untuk mempelajari bahasa daerah dan adat istiadat suku-suku asli ini. Perjalanan Kruyt dimulai dari dareah Pamona di Poso ia menelusuri daerah pegunungan dimana suku-suku asli Sulawesi Tengah tinggal. Perjalanan Kruyt sampai ke suku Besoa, Bada, Kaili dan Kulawi yang ada di sekitar TN. Lore Lindu. Selama dalam perjalanannya, ia mengumpulkan dan mencatat semua pernak-pernik budaya masyarakat adat pegunungan Sulawesi Tengah.

Setelah penaklukan Belanda pada tahun 1905, perlahan-lahan masyarakat suku pedalaman mulai mengenal dan menggunakan kain biasa sebagai bahan pakaian.

Pada saat itu pakaian sehari-hari dan pakaian adat masyarakat suku asli ini masih dari kain kulit kayu. Kain dari dari bahan katun sangat sulit didapat dan hanya digunakan untuk proses melamar saja yang dikenal dengan kain mbesa. Pembuatan kain kulit kayu beserta motif tradisionalnya merupakan hal yang umum pada waktu itu. Namun seiring berkembangnya jaman secara berangsur-angsur kain kulit kayu hilang dan dilupakan masyarakat.

Saat ini sentra pembuatan kain kulit kayu terpusat di desa Tuare di Lembah Bada Kabupaten Poso. Ada 17 macam pohon yang kulit kayunya bisa dibuat menjadi kain kulit kayu, yang sebagian besar merupakan keluarga pohon beringin dan sejenis pohon waru. Kain kulit kayu ini sangat potensial digunakan sebagai bahan kerajinan atau souvenir. Namun masyarakat di desa ini hanya membuat kain kulit kayu dalam bentuk lembaran saja tidak ada motif atau hiasannya.

Tidak semua orang bisa membuat motif atau lukisan tradsional pada kain kulit kayu. Disamping penguasaan pada motif tradisional yang sudah tidak ada, pewarnaannya juga sangat sulit karena harus memakai pewarna alami. Pengetahuan dan kemampuan membuat pewarna alami warisan budaya nenek moyang ini sudah hilang di masyarakat desa.

Toni salah sorang warga desa Runde di Lembah Bada tertarik untuk meneruskan tradisi nenek moyang yang sudah mulai hilang ini. Dari usaha coba-coba pada tahun 1988 ia mulai menelusuri motif-motif tradisional yang ada pada kain kulit kayu warisan neneknya, namun tidak banyak jenis motif yang ia dapatkan. Beruntung saat itu ia betemu turis mahasiswa Jerman yang sedang mengadakan penelitian motif tradisional Sulawesi untuk thesisnya. Dari bekal fotokopian motif yang dikirim dari jerman itu toni bisa mambuat motif yang sangat indah dan tampak rumit pada media kainkulit kayu. Motif asli merupakan bentuk dari budaya masyarakat pada waktu itu. Motif dengan bentuk yang abstrak yang tidak mirip dengan bentuk aslinya. Motif kerbau, daun beringin, daun bambu, ular sawah, meupakan morif yang dominan menghiasi kerajinan kain kulit kayu dari Bada. Semua bentuk motif ini mempunyai arti sendiri-sendiri.

Motif kerbau melambangkan kemakmuran, motif ular sawah melambangkan persaudaraan, daun beringin melambangkan kearifan.

Kerajinan peryama yang berhasil dibuatnya adalah penutup kepala (Siga) yang lengkap dengan motif tradisionalnya. Siga itu ditawar seorang turis dengan harga tinggi, dan tony pun semakin semangat untuk membuat kerajinan yang lain.

Ketika mulai mewarnai kain kulit kayu, hasilnya jauh dari yang ia harapkan karena ia menggunakan bahan cat sintetik dari toko yang ia beli di toko. Dari pengalaman ini ia pun mencoba untuk menggunakan pewarna tradisional. Kurang lebih selama satu setengah tahun ia mencari bahan yang pas untuk mewarnai motif pada kain kulit kayunya.

Saat ini ia bisa membuat kerajinan dengan beraga motif dan bentuk serta baju atau selimut yang berwarna- warni dengan motif yang indah.

###

Satu pemikiran pada “Kain Kulit Kayu, Budaya Lore Lindu Yang Mulai Pudar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s