Maleo, satwa Simbol Sulawesi Tengah

Masih belum banyak orang tahu mengenai burung istimewa yang tinggal di daerah Sulawesi ini, Maleo merupakan burung khas Sulawesi, yang selain burung allo atau julang , maleo merupakan burung yang juga menjadi maskot bagi masyarakat di daerah Sulawesi. Dengan penampilannya yang menarik yakni bulunya yang hitam mengkilat dan putih mawar pada bagian dadanya, kepala yang ber-helm serta ekornya yang diangkat tinggi selayak unggas yang lain berikut karakter yang spesifik dengan cara berjalannya yang tenang, menjadikan maleo nampak sebagai maskot yang membawa wibawa bagi masyarakat daerah Sulawesi ini. Termasuk dalam kumpulan burung yang hidup endemik di Sulawesi dan merupakan satu – satunya wakil dari genusnya Megapodiidae yang tinggal di Sulawesi (salah satu daerah yang dikenali sebagai habitat hidup maleo adalah Taman Nasional Lore Lindu). Yang khas selain dari penampilannya, burung ini mempunyai perilaku bertelur yang spesifik, maleo tidak membuat sarang ataupun mengerami telurnya guna menetaskan anaknya tetapi maleo akan menggunakan panas matahari atau panas bumi untuk menetaskan telurnya. Caranya dengan menguburkan telurnya di pasir yang terkena sinar matahari yang cukup atau dengan mencari lokasi daerah dengan panas bumi yang cukup untuk menetaskan telurnya. Dengan perilakunya ini maka maleo akan menempatkan telurnya di daerah berpasir di dekat pantai atau di hutan atau pegunungan yang mempunyai tenaga potensial panas bumi seperti sumber air panas misalnya. Masih dalam kaitannya perilaku dalam bertelur , maleo akan menempatkan telurnya di tempat yang setiap dia bertelur dan bahkan galian sarangnya untuk menempatkan telur bisa digunakan oleh pasangan maleo yang lain. Dalam sejarahnya sarang bertelur maleo bisa digunakan sampai 100 kali selama masih mempunyai kondisi yang cukup guna menetaskan telurnya. Maleo yang mempunyai salah satu makanan favorit buah kemiri ini, biasa terlihat beraktivitas dekat sarang di pagi-pagi benar dan sore hari, selayaknya manusia, maleo mempunyai jam biologis untuk “ngantor”~cari makan di siang hari. Galian sarang guna meletakan telurnya bisa mencapai 3 meter dalamnya. Dan pada saatnya menetas nanti anakan maleo akan mengais-ngais tanah atau pasir untuk keluar dari bumi dan kemudian terbang bebas untuk meneruskan hidupnya. Tidak banyak burung yang mempunyai banyak keistimewaan seperti maleo ini. Selain perilaku bertelurnya yang khas, telur maleo juga mempunyai ukuran yang istimewa yakni ukuran telurnya 5 kali lipat dari besar ukuran telur ayam normal tentunya dengan nilai gizi yang lebih tinggi pula. Dengan ukuran telur yang sebesar ini jika dibandingkan dengan ukuran induk maleo yang hanya sebesar ukuran ayam normal maka bisa dibayangkan betapa besar perjuangan si induk maleo untuk bertelur bahkan dari informasi beberapa peneliti, maleo betina bisa sampai pingsan ketika bertelur. Namun sayangnya seiring dengan banyaknya keistimewaan yang dipunyainya, ternyata ancaman terhadap kelangsungan hidupnya pun besar; seperti pengambilan/ panen telur maleo yang masih terus berlangsung dengan tanpa pengelolaan, perambahan hutan yang membuka kanopi dimana maleo biasa bertengger atau membuka naungan yang melindungi sarang telurnya dan masih banyak lagi ancaman terhadap kerusakan habitat tempat hidup maleo. Maleo yang penyebarannya di Sulawesi meliputi Sulawesi Utara, tengah, dan tenggara ini diestimasikan total populasinya di dunia tinggal 4000-7000 pasang, dan hanya akan ditemukan pada habitat dengan “nesting ground”(tempat bersarang) yang cocok dan penutupan kanopi hutan yang cukup. Jadi bagaimana agar keistimewaanya selalu terjaga?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s