Konservasi Maleo di SM. Pinjan-Tanjung Matop

bikinkandangDari sisi luasan, suaka margasatwa ini cukup kecil, sekitar 1600 ha saja. Namun menyimpan potensi biodiversitas yang besar. Dengan mudah kita bisa menjumpai berbagai satwa khas Sulawesi. Selain maleo, beberapa jenis satwa endemik Sulawesi yang diketahui secara pasti terdapat di kawasan ini antara lain Anoa (Buballus, sp.), Tangkasi (Tarsius, sp.), Monyet Hitam Sulawesi (Macaca tonkeana) dan beberapa jenis mamalia lainnya. Informasi verbal dari masyarakat lokal menyebutkan bahwa Musang Coklat Sulawesi (Macrogalidia musschenbroeckii) dan Babi Rusa (Babyrousa babyrussa) juga terdapat dalam kawasan ini. Beberapa jenis burung khas Sulawesi juga terdapat di kawasan ini antara lain Rangkong atau Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), Bubut Sulawesi (Centropus celebensis), Elang Sulawesi (Spizaetus lanceolatus), Kadalan Sulawesi (Rhamphococcyx calorhynchus) dan berbagai jenis burung lainnya. Selain itu, di kawasan ini juga terdapat empat jenis penyu yaitu; Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Tempayan (Caretta caretta), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).

Suaka Margasatwa Pinjan Tanjung Matop adalah salah satu kawasan konservasi terpenting yang ada di Sulawesi Tengah karena kekhasan ekosistem yang dimilikinya mulai dari ekosistem pantai sampai hutan tropis dataran tinggi. Kawasan ini ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 441/Kpts/Um/5/1981, tanggal 21 Mei 1981 dengan luas +1.612,50 Ha.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan dua desa, yaitu desa Pinjan dan desa Binontoan, keduanya masih dalam wilayah Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli. Desa Pinjan berpenduduk 343 KK (kepala keluarga) atau sekitar 1.437 jiwa, hampir seluruhnya adalah penduduk asli yaitu etnis Tolitoli. Sedangkan desa Binontoan berpenduduk 701 KK dengan jumlah jiwa 2.855 orang. Berbeda dengan desa Pinjan yang hampir belum ada pendatang, masyarakat desa Binontoan sudah merupakan campuran dari berbagai etnis, namun masih tetap didominasi oleh etnis Tolitoli. Masyarakat Pinjan dan Binontoan hampir seluruhnya beragama Islam, hanya beberapa pendatang beragama kristen yang hidup rukun berdampingan dengan penduduk asli. Matapencaharian utama masyarakat dari kedua desa ini adalah bertani, sawah dan kebun, beberapa diantaranya sebagai nelayan. Komoditi hasil pertanian yang menonjol dari kedua desa ini adalah Padi, Cengkeh, Coklat dan Kopra.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan burung maleo sangat penting bagi masyarakat di sekitar habitatnya jauh sebelum ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi, olehnya dahulu masyarakat memiliki konsep pemanfaatan dan pengelolaan telur burung maleo. Dan tidak dapat di sangkal pula, populasi burung maleo dari tahun ke tahun cenderung menurun akibat berbagai sebab seperti penggalian telur tidak terkontrol, perburuan dan penjeratan burung maleo dewasa, perusakan habitat (destruktif logging dan pembukaan kebun).

tanam-telur1Disini terdapat kelompok masyarakat KPFF-Manuk Mamua desa Pinjan yang bekerja untuk melakukan upaya-upaya pelestarian SM. Pinjan Tg. Matop termasuk di dalamnya satwa-satwa endemik yang terdapat di dalamnya. Kelompok ini bekerja sama dengan Yayasan jambata dan TNC telah melakukan beberapa upaya pelestarian lingkungan. Antara lain adalah penyelamatan Burung maleo dengan membuat kandang penetasan semi alami dan monitoring secara berkala.

Alasan utama memindahkan telur-telur maleo ke dalam kandang penetasan semi alami, adalah untuk menghindarkan telur maleo dari gangguan predator, ancaman rendaman air laut dan pencurian yang dilakukan oleh orang-orang tertentu.

Telur-telur tersebut di tanam dalam kandang penetasan semi alami dengan kedalaman rata-rata 70 cm. Di kedalaman ini, berdasarkan pengalaman dan pengukuran penetasan pada tahun-tahun sebelumnya dapat diperoleh suhu dan kelembaban ideal bagi penetasan telur. Suhu 320 – 350 dengan kelembaban 6 – 12 % merupakan suhu dan kelembaban ideal.

Penentuan lokasi penempatan kandang memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

  • Lokasi kandang penetasan di pantai berpasir, yang memiliki ketebalan pasir minimum 1 meter.
  • Tidak tertutup oleh tajuk-tajuk pohon (tidak di tempat yang rindang)
  • Relatif aman dari jangkauan air pasang laut

###

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s