Kehidupan Suku Wana Morowali

wanaDi dalam kawasan CA Morowali terdapat masyarakat asli Tau Ta’a Wana yang terdistribusi secara luas dan menyebar. Secara garis besar, terdapat empat kelompok besar yang mendiami kawasan CA Morowali, yakni Kelompok Kayupoli, Kelompok Langada, Kelompok Uwe Waju dan Kelompok Posangke. Kehidupan masyarakat Tau Ta’a Wana yang bermukim di CA Morowali sangat tergantung dengan potensi sumberdaya kawasan. Pemukiman dan lahan pertanian secara berpindah merupakan pola yang berlangsung sampai sekarang. Pembukaan lahan untuk kepentingan pemukiman dan pertanian komunitas Ta’a Kayupoli, mengikuti dua pola. Pola pertama dan yang terbesar adalah pola perluasan langsung dan pola kedua adalah berpencar.
Sebagaimana komunitas lain di wilayah Sulawesi tengah, Komunitas Tau Ta’a juga mengenal sistem pembagian wilayah, yakni :
a. Pangale, adalah kawasan hutan rimba yang merupakan kawasan yang dianggap sebagai sumber kehidupan untuk pemanfaatan lahan pertanian dan pemanfaatan hasil hutan non kayu.
b. Yopo, adalah hutan sekunder termasuk alang-alang yang merupakan bekas kebun lama dan dibagi menjadi Yopontua dan Yopongura.
c. Navu, adalah lahan pertanian masyarakat
d. Pakanavu, adalah wilayah atau lokasi bekas kebun yang baru ditinggalkan. Kawasan pangale atau hutan dikenal beberapa kawasan yang tidak boleh diganggu atau diolah oleh masyarakat, karena dianggap keramat atau ada penghuninya.

Beberapa jenis kawasan pangale adalah : a.Kantuda, adalah batu duduk di tengah air sungai morowali b.Uwentubesi, adalah wilayah sungai c.Watu Masaidada, adalah batu strep atau karts d.Tanjung rano bae, adalah wilayah tanjung yang terdapat di Danau/Rano Bae .

Menurut informasi dari ketua adat Kayupoli (Pak Jima), bahwa dalam membuka hutan untuk menjadi lahan pemukiman dan pertanian ada beberapa hal yang menjadi perhatian, yakni :
a. Hutan tersebut bukan lokasi larangan atau yang dikeramatkan b. Hutan yang akan dibuka dirasa aman dari ancaman banjir dan longsor.
c. Hutan yang akan dibuka memiliki pohon yang besar-besar sebagai ciri lahan subur.
Pembukaan lahan oleh komunitas Tau Ta’a Kayupoli, mengikuti tata cara sebagai berikut : a. Permintaan izin, merupakan proses meminta izin dengan syarat membawa pinang, sirih dan kapur serta menancapkan kampak pada pohon kayu. Apabila kampak jatuh berarti hutan tidak boleh dibuka dan apabila kampak tidak jatuh berarti hutan boleh dibuka. b. Pemarasan, merupakan kegiatan pembersihan tanaman bawah berupa tanaman rotan, kayu-kayu kecil dan tanaman bawah lainnya. Kegiatan ini bertujuan agar proses menebang lebih mudah dan terarah. c. Penebangan, merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menumbangkan pohon-pohon besar dengan menggunakan kampak dan saat ini sebagian telah menggunakan chain saw. d. Pembakaran, dilakukan setelah tanaman yang diparas dan ditebang kering dan biasanya menunggu selama 1 – 2 minggu. Setelah dibakar, lahan siap untuk ditanami. Untuk tanaman semusim padi, komunitas Tau Ta’a tidak melakukan pengolahan tanah, dimana lahan yang habis dibakar langsung ditugal untuk ditanami dengan benih padi. Penanaman dilakukan diantara batang-batang pohon tumbang yang menyebabkan luas pertanaman lebih kecil dari luas lahan yang dibuka. Bentuk permukaan lahan masih tetap sesuai aslinya, yakni pada umumnya bergelombang dan beberapa tempat akan mudah tergenang air pada saat musim hujan. Dalam usaha pertanian, komunitas Tau Ta’a masih menggunakan peralatan sederhana. Komunitas Tau Ta’a belum mengenal cangkul, alat penyiangan, alat pemberantasan hama, alat pemanenan, dll. Komunitas Tau Ta’a , hanya menggunakan kampak, tugal kayu untuk menanam dan menggunakan parang untuk panen. Secara umum pemanfaatan kekayaan hayati dan ekosistem CA Morowali oleh komunitas Tau Ta’a dapat dikelompokkan sebagai berikut untuk : – Pemenuhan Lahan Hutan dipandang sebagai sumber lahan untuk pertanian, utamanya untuk penanaman tanaman padi sebagai makanan pokok. Komunitas Tau Ta’a Posangke dalam setiap tahunnya membuka hutan lahan tanaman padi. Berdasarkan hasil diskusi dan informasi masyarakat, komunitas Posangke membuka hutan rata-rata 0,5 ha per tahun baik untuk perluasan maupun perpindahan. – Pemenuhan Ekonomi Komunitas Tau Ta’a dalam pemenuhan ekonomi terbesarnya bersumber pada pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu CA Morowali. Beberapa pemanfaatan HHNK yang dimanfaatkan, adalah, Getah damar, Jalapari dan Rotan. Kemampuan orang wana dalam mengambil dammar adalah sekitar 45 – 60 kg per orang selama 3 hari dengan harga jual Rp. 3.500 per kg. Secara ekonomi setiap orang mendapatkan uang sebesar Rp. 50.000 – 75.000 per hari. Kegiatan ini tidak dilakukan secara rutin, dimana dalam setiap bulan dulakukan 4 kali sesuai dengan cuaca. Kegiatan pengambilan getah damar ini dilakukan oleh hampir seluruh komunitas Tau Ta’a dan merupakan kegiatan ekonomi yang utama. Tidak semua komunitas wana di morowali melakukan pengambilan rotan sebagai sumber pemenuhan ekonomi keluarga, seperti di kelompok Posangke. Hal ini disebabkan karena tidak ada penampung dan pembeli rotan di wilayah terdekat dan juga akses untuk mengambil cukup sulit. Pengambilan rotan hanya dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga sebagai pengikat dan perabotan lainnya.

– Pemenuhan Obat-obatan Beberapa jenis tanaman hutan yang dimanfaatkan untuk obat-obatan oleh komunitas Tau Ta’a Posangke, antara lain: *) Ombu (tembakau hutan) untuk obat batuk; *) Lero (tali hutan), batangnya ditumbuk untuk kompres penurun panas, *) Andolia (kayu), kulitnya direbus untuk obat muntaber; *) Gompanga (kayu), kulitnya diserut dan direbus untuk obat malaria; *) Langsat (kayu buah), kulit diserut dan direbus untuk obat malaria; *) salaga (semak), untuk pengobatan luka dalam yang dilakukan oleh dukun (kawalia), daunnya ditempel pada bagian yang sakit dan diisap untuk mengeluarkan darahnya; *) Lebonu (kayu), daunnya dibungkuskan pada batu yang telah dibakar agar panas dan kemudian ditempelkan pada perut untuk ibu habis melahirkan (Moramu); *) Komboro (tali hutan), batangnya ditumbuk dan dikompreskan pada bagian yang bengkak; *) Nomsu (kayu), getahnya ditetes untuk mengobati luka dalam mulut/sariawan. – Bahan rumah Secara keseluruhan rumah komunitas Tau Ta’a Posangke bahan-bahanya berasal dari hutan.

Beberapa jenis kayu yang dimanfaatkan untuk bahan rumah, antara lain : *) kayu Baang, untuk tiang rumah; *) kayu Nyilo untuk bagian atas (kap) rumah; *) kayu andolia, kulitnya untuk lantai dan dinsing; *) kayu Bintoni untuk tiang; *) kayu Tiro untuk dinding; *) kayu Lemoro untuk bagian atas (kap) rumah; *) batang pinang hutan untuk lantai; dan *) daun sagu untuk atap.

– Pemenuhan konsumsi protein hewani Untuk pemenuhan konsumsi protein hewani, komunitas Tau Ta’a Posangke melakukan perburuan satwa liar, penagkapan ikan dan udang serta sudah mulai melakukan pemeliharaan ayam untuk telur dan dagingnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s