Schistosomiosis di sekitar Lore Lindu

Penyakit schisto atau dikenal juga dengan penyakit kaki gadjah di sebabkan oleh binatang cacing dari genus Schistosoma. Penyakit ini endemik pada 74 negara, dan menginfeksi sekitar 200 juta orang dan sekitar setengahnya hidup di Afrika.
Cacing penyebab schisto ini di temukan di daerah tropis di Afrika, Karibia, Amerika Selatan, Asia Tenggara dan juga di Timur tengah. Jenis-jenis cacing ini adalah:
1. Schistosoma mansoni, di Amerika Selatan, Afrika dan Timur tengah
2. S. haematobium, di Afrika dan Timur tengah
3. S. japonicum, ditemukan di daerah Timur Jauh
4. S. mekongi dan S. intercalatum, penyebarannya di Asia tenggara dan Afrika Barat.
Di Indonesia terdapat cacing Schistosoma japonicum, dan hanya bisa ditemukan di dataran tinggi Lindu dan Napu, namun terakhir ditemukan juga di daerah Palolo yang berbatasan dengan wilayah Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. Penyebaran penyakit ini terbatas di daerah-daerah ini saja. Tempat yang biasa di diami cacing schisto adalah daeah danau, kolam, rawa, atau perairan lain yang terdapat siput dari genus Biomphalaria, Bulinus, atau Oncomelania. Tiga siput ini adalah inang alami dari cacing Schistosoma.
Karena ukurannya yang sangat kecil, cacing ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui pori-pori kita menuju aliran darah, kemudian ikut bersama darah ke jantung dan paru-paru dan selanjutnya menuju hati (liver). Mula-mula schistosomiasis menjangkiti orang melalui kulit dalam bentuk cercaria yang mempunyai ekor berbentuk seperti kulit manusia, parasit tersebut mengalami transformasi yaitu dengan cara membuang ekornya dan berubah menjadi cacing. Di dalam hati orang yang dijangkiti, cacing-cacing tersebut menjadi dewasa dalam bentuk jantan dan betina. Pada tingkat ini, tiap cacing betina memasuki celah tubuh cacing jantan dan tinggal di dalam hati orang yang dijangkiti untuk selamanya. Pada akhirnya pasangan-pasangan cacing Schistosoma bersama-sama pindah ke tempat tujuan terakhir yakni pembuluh darah usus kecil yang merupakan tempat persembunyian bagi pasangan cacing Schistosoma sekaligus tempat bertelur.
DAUR HIDUP
1. Di dalam Siput
Kotoran yang dibuang oleh orang yang terinfeksi membawa telur cacing yang kemudian menetas di lingkungan sekitarnya saat terkena air dan kemudian menjadi miracidia yang berenang bebas di perairan. Miracidia ini kemudian menginfeksi siput. Setelah itu miracidia berubah bentuk menjadi Sporosit. Sel spororit ini kemudian membelah diri dan menuju hepatopankreas siput. Di hepato pankreas ini sporosit yang telah membelah diri tadi memproduksi ribuan parasit yang dikenal dengan nama Serkaria (cercariae). Serkaria sangat mobil di dalam air, pergerakan serkaria di pengaruhi oleh turbulensi air, keteduhan dan bahan kimia di kulit manusia.
2. Di dalam tubuh manusia
Penetrasi ke dalam tubuh manusia terjadi saat sekaria menempel pada kulit manusia. Parasit ini kemudian mengeluarkan enzim untuk memecah protein kulit. Setelah masuk kedalam kulit serkaria berubah menjadi schistosomulum. Setelah 2 hari di kulit,schistosomulum bergerak pembuluh kapiler. 8-10 hari setelah masuk penetrasi di kulit, parasit ini bermigrasi ke hati. Setelah mencapai hati parasit ini membentuk mulut penghisap (oral sucker), dan memakan sel-sel darah merah. Setelah dewasa panjangnya akan mencapai 10mm. Pasangan cacing dewasa kemudian menuju ke saluran pembuangan, kandung kemih dan ginjal. Cacing parasit ini menjadi dewasa setelah 8 minggu dan mulai menghasilkan telur. S.japonicum bisa memproduksi 3000 telur per harinya.

schistosomiasis_life_cycle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s