Sumber daya air Kota Palu dan TN Lore Lindu

gumbasaWilayah tangkapan air di dalam TN Lore Lindu adalah sumberdaya vital yang diperlukan bagi pembangunan provinsi yang berkelanjutan. Umumnya peningkatan pendapatan produk bruto regional (GRDP) Sulawesi Tengah yang cepat diperoleh dari pengguna air dari wilayah urban yang berlokasi di sebelah utara Lembah Palu. Kekayaan pertanian, pembangunan industri, dan cepatnya pertumbuhan urbanisasi tergantung pada terjaminnya pasokan air bersih yang berasal dari wilayah tangkapan di Taman Nasional dan juga pegunungan-pegunungan sekitarnya.

Ketergantungan pada daerah hutan pegunungan untuk memastikan pelepasan air yang lambat akan seterusnya menjadi sangat aspek penting bagi pertumbuhan ekonomi dan infrastuktur dari Palu dan lingkungan sekitarnya. Palu terletak di daerah bayangan hujan, sehingga kota ini sering disebut sebagai kota yang terkering di Indonesia. Palu menerima kurang dari 500 mm hujan dalam setahun dengan beberapa bulan pada setiap tahunnya yang diklasifikasikan sebagai “kering” (yaitu kurang dari 100 mm tinggi hujan). Caldecott dan Ng Forge lebih lanjut menyatakan bahwa karena separuh wilayah air Palu berasal dari TN Lore Lindu, air dari Taman Nasional menyumbangkan beberapa sekitar sembilan ratus juta dolar dalam setahun kepada provinsi ini. Untuk menghindari kesalahan dalam pengelolaan alam dan perencanaan pemanfaatan, maka perlindungan daerah tangkapan air perlu diperhatikan secara serius.

Sistem sungai Sopu/Gumbasa/Palu diwakili oleh kurang lebih 60 wilayah sub – DAS dalam Taman Nasional. Wilayah-wilayah tangkapan sungai dan sub-tangkapan di TN Lore Lindu). Sungai-sungai ini rata-rata lebih kecil dari yang ada di Sungai Lariang. Wilayah tangkapan yang lebih besar melebar sampai dengan keluar Taman Nasional dan menyediakan pasokan air untuk wilayah-wilayah pertanian luas yang terletak dekat dengan sebelah utara ketiga dari Taman Nasional. Termasuk di dalam sistem ini adalah enklaf Danau Lindu dimana terdapat perumahan penduduk, lahan pertanian dan hutan alam yang sudah lama dimanfaatkan. Dua anak sungai membentuk Gumbasa: Sungai Sopu dan Sungai Rawa, yang terakhir berasal dari Danau Lindu. Walaupun pertemuan dari saluran-saluran ini terletak di luar batas-batas TN Lore Lindu, kedua anak sungai tersebut mendapat pasokan air dari hujan yang banyak jatuh di wilayah konservasi.

Gumbasa dimanfaatkan secara luas karena melintasi wilayah perluasan pertanian dari lembah Palolo dimana beberapa anak sungai sekitar Taman Nasional bergabung dengan saluran utama. Gumbasa kemudian memasuki Taman Nasional sepanjang kira-kira 12 km dan muncul kembali di lahan-lahan pertanian dari Lembah Kulawi dimana pada akhirnya mengalir ke Sungai Palu. Baik pada Lembah Palolo dan Palu, Sungai Gumbasa secara luas telah dimodifikasi untuk memfasilitasi praktek-praktek pertanian.

Kapasitas hutan untuk mengurangi akibat-akibat dari run-off ke Gumbasa dapat dinilai dengan melihat secara sepintas pada tingkat aliran maksimum dan minimum. Hal tersebut dapat bervariasi dari arus yang tenang 30 m kubik/detik sampai pada sebuah “boulder moving” 1.000 m3/detik pada saat Gumbasa mengalami banyak banjir.

Erosi lereng-lereng dan banjir periodik sungai-sungai yang ada adalah sebuah fenomena alam yang diperparah oleh kegiatan manusia. Banjir dan hilangnya lahan produktif telah dilaporkan sepanjang sungai-sungai Sopu/Gumbasa dan Palu di kecamatan Sigibiromaru dan sepanjang Sungai Halua dekat Gimpu di kecamatan Kulawi. Pada kasus ini, agredasi dan transportasi sedimen yang tinggi, proses-proses yang menyebabkan saluran sungai utama melebar, disebut sebagai faktor-faktor penyebab dari perubahan rezim sungai. Peningkatan muatan dasar sungai dihasilkan dari tingkat erosi tinggi di wilayah tangkapan yang lebih hulu dengan pola pertanian tebang dan bakar yang menjadi sebab utama. Pembagian air yang dilakukan oleh Dinas PU Pengairan telah mengusahakan pembetonan tepi-tepi sungai dan membangun gabion groynes untuk mengurangi kekuatan erosif dari sungai-sungai yang ada pada saat terjadi banjir penuh. Penduduk desa dapat membantu stabilisasi pinggir sungai dengan menanam rumput vetiver dan tanaman bambu. Wilayah tangkapan di hulu yang terletak pada dan sekitar wilayah TN Lore Lindu tetap tertutup vegetasi juga merupakan prioritas penting dari skema irigasi yang harus dijaga kelestariannya. Sebuah pengkajian dan valuasi kondisi wilayah-wilayah tangkapan yang terganggu dan berada dalam resiko perlu dilaksanakan. Di dalamnya termasuk analisa dari dampak pemakai dan keuntungan yang diperoleh stakeholders dari sumber daya air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s