Mamalia Sulawesi

Daratan utama Sulawesi hanya mendukung 127 spesies mamalia, pada sisi berlawanan terdapat 222 di Kalimantan dan 183 di Jawa (MacKinnon et al 1996). Sejumlah total of 60% dari 127 spesies ini adalah endemik Sulawesi, meningkat hingga 98% jika kelelawar tidak dimasukkan. Terdapat 13 jenis endemik, 9 diantaranya adalah binatang pengerat.

Mamalia tersebut terutama berasal dari benua Asia. Tidak terdapat hewan asli kucing, anjing, rusa bertanduk (Cervus timorensis yang diperkirakan merupakan spesies introduksi), cecurut pohon atau musang. Sulawesi memiliki dua hewan berkantung asli, beruang kuskus (Ailurops ursinus) dan kuskus kerdil Sulawesi (Stigocusus celebensis). Dalam studi terdahulu, keduanya digolongkan dalam jenis Phalanger, tetapi sekarang telah diklasifikasikan kembali kedalam jenis mono-spesifik mereka sendiri (Corbett dan Hill 1992). Kuskus Sulawesi tersebut mewakili wilayah penyebaran utara paling jauh dari binatang berkantung di Australasia dan Indomalaya. Dalam TN Lore Lindu, keanekaragaman spesies mamalia kecil yang hidup di atas tanah nampaknya meningkat pada ketinggian menengah, pada hutan hujan pegunungan lebih rendah dan hutan hujan pegunungan. Tetapi keendemikan meningkat seiring ketinggian ke puncak pada hutan awan dan hutan hujan pegunungan lebih tinggi. Studi-studi lain di Philipina (Heaney et al. 1989) dan di Indonesia (Musser, 1977; Kitchener et al. 1991a, 1991b dan 1991c; Kitchener dan Yani 1996; Kitchener et al. 1997, Kitchener dan Yani 1988 dan Kitchener et al. 1998) juga menunjukkan bahwa hewan mengerat endemik juga paling sering ditemukan pada ketinggian yang lebih tinggi. Sayangnya hanya sedikit studi di Asia Tenggara yang dilakukan untuk menguji perubahan-perubahan pada kekayaan spesies atau keanekaragaman spesies dari mamalia-mamalia tanah seiring dengan meningkatknya ketinggian. Salah satu dari alasan-alasan mengenai kurangnya informasi pada kecenderungan tersebut adalah karena diperlukan usaha besar pemerangkapan yang tersebar sepanjang tahun untuk menerangkan pola-pola tersebut. Sebagai contoh, Kitchener dan Yani (1996) menyatakan bahwa lebih dari 37.000 malam perangkap disebar disepanjang tahun dengan usaha pemerangkapan yang sama dengan 79 lokasi yang dianggap hampir cukup untuk tujuan-tujuan seperti di atas dalam wilayah pegunungan di Pulau Flores, Indonesia. Dalam Taman Nasional Lore Lindu, keanekaragaman spesies mamalia tanah menunjukkan kecenderungan yang kecil dengan meningkatnya ketinggian. Hal ini sama dengan yang dicatat oleh Kitchener at al. (1997) di Irian Jaya dan Heaney et al. (1998) di Filipina. Akan tetapi, hal ini berbeda dari yang ditemukan oleh Medaway (1972), Langham (1983), serta Kitchener dan Yani (1998) dimana kekayaan berkurang pada ketinggian yang lebih tinggi. Anoa (Bubalus (Anoa) depressicornis & B. (Anoa) quarlesi) Anoa termasuk spesies langka dari kerbau kecil endemik Sulawesi, Indonesia (IUCN 2000). Spesies ini merupakan mamalia terbesar di pulau ini (Whitten 1987), tetapi yang mengejutkan adalah bahwa sedikit sekali informasi yang ada mengenai biologi dan ekologi dari satwa besar ini. Taksonomi Anoa membingungkan dan nama dua spesies saat ini sedang dalam perdebatan (Anoa Dataran rendah dan pegunungan [Bubalus depressicornis & B. quarlesi]) (Pitra et al. 1997). Kedua spesies ini dilaporkan oleh jagawana ditemui dalam Taman Nasional, tetapi deskripsi-deskripsi yang diberikan seringkali tidak konsisten. Terdapat lebih banyak kepastian bahwa tentang Anoa pegunungan yang diteliti dan studi lapangan yang dilaksanakan (Hedges in prep.; Schreiber & Nötzold 1995; Foead 1992). Oleh sebab itu, dalam laporan ini seluruh Anoa akan diperlakukan secara seragam. Analisis dilakukan terhadap informasi yang dikumpulkan dalam kuesioner berkaitan dengan perbedaan-perbedaan pada bentuk morfologi dalam laporan tersebut. Walaupun masih terdistribusi secara luas di sepanjang Sulawesi, jarak jelajah mereka berkurang seiring dengan kerusakan habitat dan perburuan (Lee 2000; Mustari 1995). Oleh sebab itu, penelitian-penelitian dasar dari spesies ini, seperti yang dinyatakan oleh IUCN Cattle Action Plan (Hedges in prep.) sangat mendesak untuk dilakukan. TNLL terdaftar sebagai salah satu dari lokasi-lokasi prioritas utama untuk konservasi Anoa oleh MacKinnon dan MacKinnon (1986) dan Hedges (in prep.). Babirusa (Babyrousa babirusa) Babirusa (Babyrousa babyrussa) merupakan salah satu mamalia langka paling unik di dunia dan tentu saja merupakan salah satu jenis babi paling luar biasa. Penilaian Populasi dan Kelayakan Habitat menyatakan perlunya lebih banyak informasi tentang distribusi dan kepadatan populasi Babirusa pada kawasan-kawasan yang berbeda di Sulawesi (Manansang et al, 1996b). Riset lapangan yang dilakukan baru-baru ini mengindikasikan bahwa Babirusa dibunuh pada tingkat yang sangat cepat sebagai produk buruan kedua untuk babi liar endemik lainnya (Sus celebensis) guna memasok permintaan pasar di daerah Manado, Sulawesi Utara (Clayton dan Milner-Gulldan, 2000). Terdapat pula indikasi-indikasi populasi di Sulawesi Tengah yang terfragmentasi oleh penggundulan hutan. Sifat komposisi gen dan aliran dari populasi ini tidak diketahui dan tidak menentu, oleh sebab itu pentingnya populasi genetik dalam Taman Nasional dipelihara. Babi liar Sulawesi (Sus celebensis) Babi liar Sulawesi adalah babi berukuran sedang, umumnya berada di sebelah utara, tengah dan timur Sulawesi (Macdonald, 1993). Penggundulan hutan skala besar untuk kayu dan konversi lahan untuk pertanian, digabungkan dengan ekspansi populasi dan migrasi manusia berakibat pada pengurangan luasan rentang satwa ini di sejumlah wilayah Sulawesi. Monyet Boti (Macaca tonkeana) Spesies monyet ini berada antara dari utara Palu sampai dengan Tana-Toradja sebelah selatan Taman Nasional dan mencakup seluruh semenanjung sebelah timur. Dari lima spesies monyet berekor pendek (mungkin 7 – tujuh) di Sulawesi, mungkin merupakan hal yang paling umum, karena wilayah jelajahnya mencakup wilayah yang luas. Dari keseluruhan spesies, monyet ini memiliki populasi paling kecil dalam wilayah-wilayah yang diteliti. Taman Nasional Lore Lindu membentuk proporsi yang besar untuk wilayah ini. Spesies ini kemungkinan diburu untuk “perdagangan daging semak-semak – bush meat trade” memasok pasar Manado (Lee 2000).

Anoa (Bubalus (Anoa) depressicornis & B. (Anoa) quarlesi)

Anoa termasuk spesies langka dari kerbau kecil endemik Sulawesi, Indonesia (IUCN 2000). Spesies ini merupakan mamalia terbesar di pulau ini (Whitten 1987), tetapi yang mengejutkan adalah bahwa sedikit sekali informasi yang ada mengenai biologi dan ekologi dari satwa besar ini. Taksonomi Anoa membingungkan dan nama dua spesies saat ini sedang dalam perdebatan (Anoa Dataran rendah dan pegunungan [Bubalus depressicornis & B. quarlesi]) (Pitra et al. 1997). Kedua spesies ini dilaporkan oleh jagawana ditemui dalam Taman Nasional, tetapi deskripsi-deskripsi yang diberikan seringkali tidak konsisten.

Anoa dianggap sebagai satwa penjelajah yang selektif. Namun demikian, informasi mengenai habitat yang disukai oleh Anoa berbeda – beda. Wirawan (1981) menyatakan bahwa Anoa lebih menyukai wilayah-wilayah yang terairi baik serta berbatu tanpa semak-semak yang padat untuk makan dan puncak punggung bukit untuk beristirahat. Akan tetapi, Foead (1992) menemukan bahwa hutan lebat dengan vegetasi yang beragam lebih disukai oleh Anoa. Sugiharta (1994) menganggap kepadatan pohon yang rendah serta kepadatan vegetasi semak-semak adalah yang disukai oleh Anoa. Foead juga menunjuk persyaratan untuk sumber air dan kegiatan manusia yang minimal.

IUCN Asian Cattle Action Plan/Rencana Aksi Satwa Ternak Asia menyatakan bahwa TNLL akan menjadi tempat yang cocok untuk penelitian lapangan lengkap tentang Anoa. Khususnya untuk menyelidiki akibat-akibat dari penggunaan hutan oleh manusia terhadap populasi satwa tersebut (pengumpulan hasil hutan, penggembalaan satwa ternak, konstruksi jalan, dan pariwisata).

Walaupun masih terdistribusi secara luas di sepanjang Sulawesi, jarak jelajah mereka berkurang seiring dengan kerusakan habitat dan perburuan (Lee 2000; Mustari 1995). Oleh sebab itu, penelitian-penelitian dasar dari spesies ini, seperti yang dinyatakan oleh IUCN Cattle Action Plan (Hedges in prep.) sangat mendesak untuk dilakukan. TNLL terdaftar sebagai salah satu dari lokasi-lokasi prioritas utama untuk konservasi Anoa oleh MacKinnon dan MacKinnon (1986) dan Hedges (in prep.).

Babirusa (Babyrousa babirusa)

Babirusa (Babyrousa babyrussa) merupakan salah satu mamalia langka paling unik di dunia dan tentu saja merupakan salah satu jenis babi paling luar biasa. Penilaian Populasi dan Kelayakan Habitat menyatakan perlunya lebih banyak informasi tentang distribusi dan kepadatan populasi Babirusa pada kawasan-kawasan yang berbeda di Sulawesi (Manansang et al, 1996b).

Riset lapangan yang dilakukan baru-baru ini mengindikasikan bahwa Babirusa dibunuh pada tingkat yang sangat cepat sebagai produk buruan kedua untuk babi liar endemik lainnya (Sus celebensis) guna memasok permintaan pasar di daerah Manado, Sulawesi Utara (Clayton dan Milner-Gulldan, 2000).

Terdapat pula indikasi-indikasi populasi di Sulawesi Tengah yang terfragmentasi oleh penggundulan hutan. Sifat komposisi gen dan aliran dari populasi ini tidak diketahui dan tidak menentu, oleh sebab itu pentingnya populasi genetik dalam Taman Nasional dipelihara.

Babi liar Sulawesi (Sus celebensis)

Babi liar Sulawesi adalah babi berukuran sedang, umumnya berada di sebelah utara, tengah dan timur Sulawesi (Macdonald, 1993). Penggundulan hutan skala besar untuk kayu dan konversi lahan untuk pertanian, digabungkan dengan ekspansi populasi dan migrasi manusia berakibat pada pengurangan luasan rentang satwa ini di sejumlah wilayah Sulawesi.

Monyet Boti (Macaca tonkeana)

Spesies monyet ini berada antara dari utara Palu sampai dengan Tana-Toradja sebelah selatan Taman Nasional dan mencakup seluruh semenanjung sebelah timur. Dari lima spesies monyet berekor pendek (mungkin 7 – tujuh) di Sulawesi, mungkin merupakan hal yang paling umum, karena wilayah jelajahnya mencakup wilayah yang luas. Dari keseluruhan spesies, monyet ini memiliki populasi paling kecil dalam wilayah-wilayah yang diteliti. Taman Nasional Lore Lindu membentuk proporsi yang besar untuk wilayah ini. Spesies ini kemungkinan diburu untuk “perdagangan daging semak-semak – bush meat trade” memasok pasar Manado (Lee 2000).

Musang (Coklat) Sulawesi ( Macrogalida muschenbroeki)

sulawesi-civetMasyarakat lokal mengenalnya sebagai Musang, binatang ini berhubungan dekat dengan musang Sulawesi di kawasan Sunda. Musang ini termasuk satwa endemik Sulawesi (dan juga merupakan jenis mamalia endemik Sulawesi). Musang ini merupakan mamalia karnivora asli paling besar di Sulawesi, dengan rangkaian makanan dari buah-buahan hingga satwa pengerat kecil. Musang merupakan satwa pemanjat yang ulung dan kebanyakan merupakan satwa nocturnal dan ditemukan di hutan-hutan dataran rendah dan pegunungan di Sulawesi Tengah, Timur dan Utara. Musang bersifat pemalu dan jarang ditemui, namun demikian Musang dianggap sebagai satwa yang umum di Taman Nasional Lore lindu. Musang sering menyerang ayam yang tidur dan berburu satwa pengerat di hutan kebun. Seekor Musang pernah ditangkap hidup – hidup di desa dekat Taman Nasional pada tahun 1999. Sebelum dilepaskan ke hutan, Musang ini diukur (9 kg, 130 cm kepala sampai ekor) dan difoto, jarang sekali mahluk ini difoto dalam keadaan hidup.

Krabuku/Tangkasi/Tarsius

Deskripsi Krabuku

Bagian penting dari dunia satwa Lore Lindu adalah krabuku. Mahluk nocturnal yang menarik ini adalah primata kecil dari jenis Tarsius. Krabuku hanya terdapat di Asia Tenggara. Dengan panjang kepala dan badan kira-kira 12cm, krabuku termasuk ke dalam kelas primata paling kecil di dunia. Yang paling menonjol adalah mata dan telinga mereka yang besar, yang cenderung memberikan penampilan yang aneh, tetapi bentuk mata dan telinga ini sebenarnya merupakan adaptasi yang luar biasa terhadap gaya hidup nocturnal mereka. Krabuku berbulu tebal seperti sebuah mantel wol dengannvariasi antara kekuningan hingga abu-abu dan coklat tua. Bulu tebal ini melindungi krabuku dari kondisi basah dan dingin. Krabuku memiliki ekor yang panjangnya kira-kira 24cm dan dipenuhi rambut pada kawasan distal yang memungkinkan mereka untuk melompat sejauh 4m.

Tingkah Laku

Krabuku aktif antara senja dan fajar. Satwa ini menggunakan hampir seluruh waktunya untuk berburu serangga, binatang buruan mereka. Krabuku adalah karnivora dan hidup dalam kelompok keluarga kecil yang biasanya terdiri dari jantan dewasa, satu atau dua betina dewasa, dan keturunan mereka.

Walaupun krabuku adalah pencari makan sendiri, mereka berkumpul pada saat matahari bersinar dalam pohon tempat tidur keluarga (kebanyakan akar gantung pohon ara, tetapi juga dudukan bambu atau semak-semak). Setiap pagi, dan kadang-kadang pada sore hari, krabuku dewasa dan agak dewasa menampilkan lagu duet untuk menandai dan mempertahankan daerah kekuasaan mereka, untuk memperkuat ikatan pasangan mereka, dan mengumumkan posisi dalam jangkauan sarang mereka yang biasanya berjarak antara satu dan dua hektar.

Distribusi

Tarsius syrichta, berasal dari wilayah sebelah selatan kepulauan Filipina. T. bancanus ditemukan di kepulauan patahan Sunda, sementara Sulawesi dan kepulauan sekitarnya menjadi habitat paling tidak bagi empat spesies; Tarsius sangirensis terdapat di kepulauan Sangihe, T. spectrum di Sulawesi sebelah Utara, T. dianae di hutan dataran rendah dan hutan pegunungan rendah Sulawesi Tengah, dan T. pumilus di Sulawesi Tengah. T. Pumilus adalah krabuku berpigmen, dimana hanya terdapat tiga sampel yang dapat diandalkan tercatat. Spesies ini diperkirakan menghuni hutan-hutan lumut dari kawasan Sulawesi tengah. Akan tetapi, kemajuan dalam penelitian tentang krabuku selama sepuluh tahun terakhir ini menghasilkan pembahasan dan re-evaluasi tentang distribusi populasi dan namanama beberapa spesies yang sedang dalam proses perubahan.

TN Lore Lindu dihuni oleh dua spesies krabuku. Tarsius pumilus yang tercatat hanya ada di Taman Nasional adalah dari hutan pegunungan dekat puncak Gunung Rorekatimbu dan tidak diketahui informasi mengenai kondisi biologisnya. Dengan panjang kepala dan badan yang hanya 950mm, T. pumilus adalah krabuku yang paling kecil.

Kamarora adalah tempat tipe lokal dari Tarsius dianae dan kebanyakan riset telah dilakukan di lokasi,ini. Akan tetapi, spesies ini dianggap tersebar luas di seluruh dataran rendah dan hutan pegunungan lebih rendah dari Taman Nasional.

Ancaman-ancaman terhadap Populasi Krabuku

Persepsi Masyarakat tentang krabuku.

Walaupun secara lokal dikenal sebagai Tangkasi, kebanyakan penduduk desa di sekitar Taman Nasional tidak tahu keberadaannya. Mereka yang mengetahui, menganggap mereka sebagai ancaman besarterhadap hasil panen mereka dan mengusir atau membunuhnya. Krabuku sering dijumpai di perkebunan selama masa berburu malam mereka untuk mencari serangga dan karenanya muncul sebuah kepercayaan umum yang salah bahwa krabuku memakan coklat, kopi atau kelapa.

Perburuan dan Penangkapan

Penangkapan untuk dijual atau perburuan mereka untuk koleksi dilaporkan, tetapi pada saat ini terlihat tidak ada ancaman serius terhadap stabilitas populasi.

Pestisida dan Bahan Kimia

Pemakaian pestisida pada hutan kebun dan perkebunan dekat hutan memiliki akibat yang lebih luas. Menurunnya kelimpahan mangsa tidak hanya mengurangi jumlah krabuku, tetapi juga menyebabkan krabuku yang hidup di perkebunan dengan pemakaian racun yang luas mengalami penurunan status kesehatan dan juga memiliki berat badan yang lebih rendah daripada biasanya. Akan tetapi, perkebunan yang tidak memakai pestisida serta yang terdiri dari tipe hutan yang sesuai dengan habitat mereka, digunakan secara baik oleh krabuku.

Pengambilan kayu

Pengambilan kayu, bentuk lain dari eksploitasi hutan, memiliki dampak merugikan langsung pada Tarsius.

Riset yang dilaksanakan dalam Taman Nasional mengungkapkan bahwa kepadatan populasi berkurang secara signifikan pada wilayah-wilayah dengan jumlah pengambilan kayu yang tinggi, rotan dan bambu walaupun dalam skala kecil. Hilangnya pohon untuk tempat tinggal satwa ini dan pendukung-pendukung locomotor untuk mencari makan malamnya adalah alasan – alasan yang mendasarinya berkurangnya populasi Tarsius.

Perlindungan Krabuku Sulawesi

Karena krabuku Lore Lindu adalah primata yang endemik pada hutan Sulawesi yang jumlahnya menyusut dan peran Taman Nasional sebagai pusat distribusi satwa ini dimana TNLL merupakan hutan lindung terbesar di kawasan ini, usaha-usaha keras harus dibuat untuk menjaga jumlah dari mahluk yang mempesona ini pada tingkatan yang dapat berdiri sendiri.

Krabuku menarik perhatian hampir setiap pengunjung ke Taman Nasional dan di Kamarora melihat krabuku dengan dipandu telah menjadi sebuah sumber penghasilan tambahan kecil bagi masyarakat lokal. Oleh sebab itu, terdapat potensi besar eco-turismedan untuk mahluk ini masih tersebar luas di sepanjang Taman Nasional, dapat diperluas ke wilayah lain di luar Kamarora. Dalam istilah ekonomi, krabuku dapat juga bertindak sebagai agen alami untuk mengontrol hama (serangga) pada perkebunan hasil bumi untuk perdagangan. Dengan demikian, mengkonservasi primata yang berperan penting bagi kehidupan manusia seharusnya menjadi insentif yang cukup bagi upaya – upaya pengelolaan alam.

Memahami biologi jenis Tarsius yang terganggu keberadaannya dapat menambah pengetahuan yang berharga tentang asal manusia. Sekarang, para peneliti perlahan-lahan mendapat pengetahuan tentang sifat sosial dan ekologi dari satwa-satwa ini, ancaman hilangnya sama dengan peluang tumbuhnya spesies primata ini.

2 pemikiran pada “Mamalia Sulawesi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s