Kota Tua Donggala

Kota tua Donggala ini pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda pada abad awal 20. Setelah Belanda menguasai Sulawesi Tengah pada tahun 1905, Gubernur Jenderal W. Rooseboom di Batavia yang menetapkan perubahan pembagian administrasi di pulau Sulawesi. Pelabuhan Donggala dulunya merupakan pelabuhan niaga dan penumpang. Tidak heran masih banyak bangunan tua tersisa di kota ini. Sejak lama Donggala telah dikenal sebagai pelabuhan laut. Dalam buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck milik Buya Hamka, dan Tetralogi Pulau Buru milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer, kedua buku itu menyebut nama Donggala disebut sebagai tempat singgah para pelaut Nusantara dan Mancanegara.

Nama Donggala sendiri berasal dari nama pohon Donggala atau dalam bahasa latin disebut Callophyllum innophyllum yang masuk dalam famili Clusiaceae atau Gutiferae. Kalau nama Indonesianya sejenis pohon Nyamplung. Pohon ini yang kemudian diabadikan menjadi nama Ibu Kota Kabupaten Donggala. Penamaan suatu daerah berdasarkan nama pohon umum dilakukan para orang-orang tua di tanah Kaili. Hal mana bisa dilihat di beberapa tempat lain yang namanya juga diambil dari nama pohon misalnya Siranindi, Kamonji, Tavanjuka, Lere, Talise, Nunu, Balaroa, Tavaili, Biromaru, Kalukubula dan seterusnya. Menurut penuturan Bapak R.D. Malonda, salah seorang tokoh masyarakat Donggala, bahwa dahulu kala kawasan Donggala ditumbuhi oleh Pohon Donggala. Dijelaskan bahwa pohon Donggala sebenarnya juga dijumpai di daerah lain misalnya di daerah pantai barat dan sebelah selatan Kecamatan Banawa akan tetapi mungkin karena di Kota Donggala pada waktu itu populasinya paling dominan sehingga masyarakat menamakan daerah tersebut sebagai daerah Donggala.

Kabupaten Donggala mempunyai kerajinan sarung tenun yang sangat terkenal Sarung Tenun Donggala. Salah satu pusat tenun Donggala berada di Desa Limboro dimana tidak kurang 100 penenun setiap hari bekerja menenun kerajinan ini. Dengan peralatannya sangat sederhana yang terbuat dari kayu dan bambu mereka tetap berusaha melestarikan warisan nenek moyang dengan tekun. Proses pembuatan kain tenun Donggala ini, hampir sama dengan pembuatan tenun-tenun yang ada di daerah lain. Baik dari proses pewarnaan benang hingga penenunan. Motif yang ada antara lain: palekat garusu, buya bomba, buya sabe, kombinasi bomba dan sabe. Dari sekian corak tersebut, buya bomba yang paling sulit, hingga membutuhkan waktu pengerjaan satu hingga dua bulan. Sedangkan motif lainnya yang hanya membutuhkan waktu satu hingga dua minggu saja. Buya Sabe, banyak digunakan pada cara-cara tertentu. Seperti pakaian pesta untuk orang tua, untuk menjamu tamu dari luar daerah, serta pakain untuk acara duka. Harganya tergantung motifnya,dengan harga termurah mencapai Rp 300 ribu dan paling mahal seharga Rp 650 ribu.

Satu lagi yang terkenal dari Donggala adalah Kaledo (konon singkatan dari Kaki Lembu Donggala) yang terbuat dari tulang kaki lembu dan dagingnya, dicampur asam Jawa mentah, dengan bumbu cabe rawit, garam dan jeruk nipis. Setelah masak Kaledo seperti sup dengan kaki lembu dan sedikit daging. Jika kurang pedas, kita bisa menambahnya dengan sambal cabe rawit. Agar terasa wangi, biasa ditambahkan bawang goreng yang juga oleh-oleh khas Palu.

Yang bertahan di Pelabuhan Donggala saat ini hanya aktivitas nelayan saja dan sisa bangunan tua yang keropos dimakan usia.


2 pemikiran pada “Kota Tua Donggala

  1. Dear Editor,

    I am looking for anyone who has some knowledge of WW2 in Donggala during the Japanese occupation 1942 – 1945. My old friend’s collegue, was an Australain Prisoner of War under the Japanese. He died in June 1945 somewhere at Rando Beach in Donggala. In 1945, there was a Japanese Detachment about 25 km south og Donggala.

    The wife have been trying to find out where he was buried. She is very sick and old now and will like to know something before she “goes”. If you do know of anyone, who can help or know, I will appreciate, if you can put me in contact, so that I can give me detail info.

    We will be very grateful for any information.

    Thank you & kind regards,

    Willie Teo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s