Jenis Paku-pakuan di Hutan Lore Lindu Sulawesi

Tumbuhan  paku-pakuan  merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kekayaan flora Taman Nasional Lore Lindu, karena  merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem hutan yang ada.  Berbagai jenis paku-pakuan dapat dijumpai baik pada tempat yang terbuka maupun hidup dalam hutan dengan intensitas cahaya matahari yang sedikit.  Selain jenis liar terdapat juga jenis yang dimanfaatkan masyarakat sebagai  sumber makanan dan dijadikan bahan untuk meningkatkan nilai sosialnya.  Jadi kelompok inipun dalam dimasukkan dalam tumbuhan kharismatik TNLL.

Angiopteris  evecta

Jenis paku ini termasuk dalam suku Marattiaceae dan persebarannya di TNLL tidak terlampau umum dijumpai. Tumbuh tunggal dengan batang pendek dan menggelembung. Ental atau daunnya berukuran sangat besar dan kaku,  mempunyai helaian daun menyirip ganda; mempunyai  beberapa percabangan dan pada tiap cabang  tersebut terlihat helaian daunnya. Pangkal ental dapat mencapai panjang 3 m dengan lebar 2 m. Tangkai, terutama pada bagian bawahnya berbulu dan pada bagian tepinya bersayap sempit. Helaian daun mempunyai tepi yang bergigi halus. Kantung spora terdapat pada tepi daun bagian bawah, berkelompok memanjang.

Persebaran paku ini sangat luas, mulai dari Afrika, Asia hingga Australia. Di kawasan TNLL paku ini terdapat di sekitar  hutan Tongoa, Alitupu dan lembah Napu mulai ketinggian 600-1000 m dpl. Umumnya hidup pada tempat yang ternaung.

Kegunaannya di TNLL belum banyak diketahui, tetapi di daerah lain seperti Sumatra dan Kalimantan bagian pangkal ental ini dimanfaatkan untuk  obat.

Asplenium nidus

Disebut paku sarang burung karena paku ini biasa hidup epifit, menempel pada ranting pohon dan bentuknya mirip seperti sarang. Daun-daunnya kaku, berbentuk jorong memanjang, hijau licin, tersusun rapat pada batangnya  yang berukuran sangat pendek. Helaian daun tersebut mempunyai ibu tulang daun yang sangat kaku, jelas dan urat daun samping sejajar. Spora umumnya terdapat sepanjang urat daun tersebut berupa garis-garis sejajar berwarna coklat. Sistem perakarannya sangat kuat.

Paku ini sangat umum dijumpai mulai dari dataran rendah hingga pegunungan. Perawakannya sangat cantik sehingga sering diambil  untuk dijadikan tanaman hias, yang ditanam menempel pada batang pohon, atau sebagai tanaman pot di dalam ruangan.

Di daerah Alitupu, tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai bahan obat luka.


Cyathea contaminans

Merupakan  paku yang tumbuh  tegak, umumnya berbatang tunggal dan sangat banyak dijumpai dan mudah dikenal.  Karena perawakannya tersebut maka jenis ini disebut paku pohon atau di TNLL disebut  “apuni”  dan termasuk dalam suku Cyatheaceae. Pada jaman karbon, sekitar 350-270 juta tahun yang telah silam, paku pohon yang berukuran lebih besar pernah merajai sebagian bumi ini dan peninggalan batangnya yang tertanam dalam rawa-rawa telah menjadi batubara.   Paku pohon yang ada sekarang  umumnya hanya dijumpai pada daerah pegunungan yang mempunyai suhu rendah. Tumbuhan ini mempunyai batang yang biasanya tumbuh ramping, bisa mencapai 15 m dengan diameter 12 cm. Bagian bawah batang menebal karena diselimuti oleh akarnya yang berwarna hitam sedang bagian atas batang  kasap serta terdapat bekas-bekas melekatnya pangkal daun. Tajuk terdapat pada bagian ujung berbentuk memajung. Kuncup daun biasanya dilengkapi oleh bulu-bulu berwarna coklat kekuningan. Tangkai daun atau ental panjangnya bisa mencapai 4 meter, dengan tangkai berduri kaku dan berbulu halus warna coklat. Helaian daun menyirip ganda dan letaknya berhadapan. Kantung spora terletak berpasangan di antara anak tulang daun, berkelompok dan  berbentuk bundar.

Persebarannya cukup luas serta dapat dijumpai di Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara dan Sulawesi pada daerah pegunungan  Di TNLL paku tiang ini banyak dijumpai pada hampir setiap tempat di hutan primer maupun agak terbuka pada ketinggian  di atas 1000 – 2000 m dpl. , kadang-kadang hidup menggerombol diantara pohon-pohon hutan lainnya.

Tumbuhan paku ini mempunyai arti penting baik bagi  ekositem hutan maupun masyarakat. Batangnya dapat dimanfaatkan untuk media tanaman hias dan anggrek maupun untuk dekorasi ruangan, sehingga mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Pengambilan akar tumbuhan paku ini untuk permintaan pasar menyebabkan populasinya di alam menurun. Dalam dunia perdagangan internasional jenis ini dimasukkan dalam daftar CITES appendiks II, sehingga ijin eksportnya dibatasi oleh kuota.  Daya tahan terhadap  kelapukan oleh air memungkinkan batang tumbuhan paku tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk alas tiang rumah pada tempat yang berair  atau jembatan.

Selain jenis tersebut di atas, terdapat juga kerabat dekatnya yang mempunyai ukuran lebih kecil, yaitu Cyathea latebrosa yang berbeda karena bagian kuncup daun maupun bagian basal batangnya ditutupi oleh bulu-bulu berwarna lebih gelap atau kehitaman.

Diplazium esculentum

Salah satu tumbuhan paku yang paling banyak dikenal oleh masyarakat yang tempat tinggalnya dekat hutan adalah paku sayur. Paku ini mudah dikenal karena bagian atas ental berbentuk anak panah dengan bagian tepi bergerigi. Bagian bawah berbagi dan nampak seperti menyirip dengan gagang yang berseling. Bagian pucuk melengkung dan berlendir. Kotak spora tersebar sepanjang anak tulang daun dengan bentuk memanjang. Daun muda paku sayur sangat lunak dan dimanfaatkan sebagai sayur.  Sebagai bahan obat, paku ini diduga dapat menurunkan panas badan dan dimakan oleh kaum ibu yang  baru melahirkan. Paku ini sering dijumpai juga dijual orang di pasar-pasar tradisional. Namun pemanfaatan sayur yang terlampau banyak dapat juga memicu asam urat dalam darah.

Dipteris conjugata

Jenis ini mempunyai nilai tersendiri karena merupakan jenis primitif yang muncul sejak jaman Mesozoikum.  Jenis ini merupakan paku tanah, daunnya sangat lebar dan menyerupai payung dengan ujung bercangap dan urat-urat yang bercabang menggarpu. Umumnya dijumpai pada ketinggian 1500-1700 m dpl.

Gleichenia linearis

Paku jenis ini tumbuh pada daerah yang terganggu, sangat menyukai sinar matahari. Tumbuh merambat, menggerombol membentuk semak, batang kaku dan kuat, biasanya dengan banyak percabangan yang menggarpu 2 dan tiap cabang akan bercabang 2 lagi, begitu seterusnya. Daun menyirip. Sori terdapat pada setiap anak daun, sepanjang tulang daunnya dan masing-masing sori terdiri atas 10-15 sporangia.

Pertumbuhannnya sangat cepat dan kadang-kadang menutupi lahan yang sangat luas sehingga sukar ditembus. Di TNLL tumbuhan paku ini dapat dijumpai pada beberapa tempat, terutama pada tepi jalan setapak, tepi hutan dan tepi jalan yang membelah kawasan . Dapat hidup mulai dari dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian kurang dari 2000 m dpl.

Kerabat dekatnya yaitu Gleichenia longissima mirip dengan paku  G. linearis namun jenis ini mempunyai percabangan yang lebih panjang dan mendatar. Hidupnya pada tempat terganggu, bekas longsor maupun tepi jalan dalam hutan. Kegunaannya  mirip yaitu :

batangnya sangat kuat dan sering dipakai untuk tali pengikat kayu bakar atau tiang. Bagian dalam batangnya biasa dimanfaatkan oleh penduduk untuk dibuat anyaman dan gelang.

Lycopodium mempunyai beberapa jenis yang dapat tumbuh sebagai epifit dan menjalar di tanah.  Lycopodium epifit merupakan paku  yang sangat cantik, tumbuh menggerombol dan batangnya menggantung. Beberapa jenis yang dapat dijumpai di TNLL antara lain  Lycopodium casuarinoides Tumbuh menggantung dan menggerombol, panjang sekitar 30-35 cm. Batang tidak bercabang kecuali pada pangkal, daun tersusun rapat berbentuk pita dengan bagian basal lebih lebar dan ujung berekor, panjang 1 cm.  Tumbuhan paku ini jarang ditemukan. Ia dapat dijumpai di sekitar hutan  dekat danau Kalimpaa, pada ketinggian 1700 m dpl.  Lycopodium cernuum, merupakan tumbuhan paku yang tumbuh menjalar dipermukaan tanah atau bebatuan pada tempat terbuka. Batangnya kecil, kaku, ditutupi daun-daun yang sangat halus, bercabang-cabang tidak karuan. Daun subur tumbuh tegak dengan strobili berwarna kuning pada bagian ujung. Batangnya yang alot sering digunakan untuk tali kayu bakar. Ditemukan di tepi jalan, tempat terbuka di daerah Helipad. Persebarannya cukup luas, dari Asia tropik dan Malesia.  Lycopodium  complanatum, tumbuhan paku ini  hidup menjalar di permukaan tanah. Berbeda dengan L.cernuum, batangnya ditutupi daun-daun yang berupa jarum. Percabangan sangat kuat, daun subur terdapat diujung, tumbuh tegak. Hidup berkelompok, kadang-kadang menutupi daerah yang terbuka akibat longsor. Tahan terhadap sinar matahari dan kekeringan. Dapat dijumpai di daerah Hepipad pada ketinggian 1800 m dpl. Jenis Lycopodium  phregmaria merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Tumbuhnya epifit, menempel pada cabang pohon, menggantung  dan berkelompok. Batangnya selalu bercabang menggarpu dan tiap cabang akan bercabang dua lagi. Daun tersusun rapat, berbentuk seperti ujung jarum, kaku. Strobili terdapat pada bagian ujung percabangan, panjangnya dapat mencapai 20 cm. Tumbuh tersebar tidak merata pada hutan pegunungan. Perawakannya yang elok, tumbuh menggantung  sering disalah artikan sebagai tumbuhan anggrek. Paku ini sangat digemari oleh pengumpul tanaman hias sehingga populasinya di alam perlu mendapat perhatian. Lycopodium squarrosum berlainan dengan L. phragmaria, maka jenis ini mempunyai  daun yang berbentuk bundar telur atau belah ketupat yang tersusun seperti sirap atau genteng.  Paku ini sudah sangat jarang dijumpai.  Ditemukan di hutan lereng gunung Nokilalaki pada ketinggian sekitar 1000 m dpl.
Lygodium  circinatum

Merupakan tumbuhan paku tanah yang hidupnya merambat ke ranting-ranting pohon kecil, kadang-kadang menggerombol rapat membentuk semak. Batangnya licin dan sangat kuat, kadang-kadang bercabang. Daun bercangap, membelit. Ental subur biasanya berukuran lebih kecil daripada ental mandul, bentuknya menjari 2-5 dengan tepi bergigi. Kantong spora menggerombol di jung ental. Tangkai ental tumbuh menyirip.

Tumbuhan paku ini tumbuh di tempat terbuka, dipinggiran hutan, kebun, tepi jalan setapak. Ditemukan pada beberapa tempat seperti di  Kulawi, Tongoa, Kamarora, mulai dari dataran rendah hingga pegunungan.

Di TNLL paku ini belum banyak dimanfaatkan, sedangkan di pulau Lombok batang tumbuhan ini diambil untuk dibuat anyaman kerajinan tangan, dibuat hiasan dinding dan keranjang tempat sayur.

Nephrolepis biserrata

Merupakan paku tanah, tingginya 60-100 cm, akar rimpang rapat, tangkai daun tertutup sisik. Helaian daun hampir duduk, lanset. Jenis ini lebih menyenagi sinar matahari, hidup berkelompok mendominasi suatu daerah yang terbuka seperti tepi hutan, hutan belukar sehingga merupakan tumbuhan pengganggu bagi biji-biji tumbuhan hutan lainnya untuk berkecambah dan hidup.

Stenochlaena palustris

Paku tanah dengan tunas merayap, panjang dapat mencapai 5 m. Akar rimpang memanjat, kuat, pipih. Daun menyirip, gagang 10-20 cm. Daun steril 30-200 cm, lebar 20-50 cm, dengan anak daun  lanset. Daun fertil  terpisah.  Paku ini selalu hidup pada tempat yang becek dan lembah  dan jarang hidup pada tempat yang terbuka. Oleh sebab itu keberadaan jenis paku ini merupakan indikator hutan yang masih baik.

4 pemikiran pada “Jenis Paku-pakuan di Hutan Lore Lindu Sulawesi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s