Burung Kacamata Togean

burung kacamata togean

burung kacamata togean

Burung pengicau (Passeriformes) kecil cenderung tersebar di daerah tropika di Dunia Lama (termasuk Australasia). Genus pencirinya adalah Zosterops. Burung-burung anggota suku ini dicirikan dengan lingkaran di sekitar mata berwarna putih (dari sini nama bahasa Inggris white-eye berasal) atau abu-abu.

Banyak anggotanya yang bersifat endemik di suatu pulau atau kepulauan, seperti jenis yang baru ditemukan tahun 2007 di Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah.

Penampilan anggotanya sangat “biasa”, tidak ada ciri mencolok, kecuali adanya segaris lingkaran di sekitar mata. Sayapnya melingkar dan memiliki kaki yang kuat. Ukurannya kecil, hingga sepanjang 15cm. Warna bulu biasanya hijau kelabu, tetapi ada jenisnya yang memiliki bulu leher dan perut berwarna putih atau kuning. Semua anggotanya senang berkelompok, terbang dalam kawanan. Dalam musim kawin, mereka membangun sarang di pohon dengan telur biru pucat 2-4 butir. Menu utamanya serangga dan buah-buah kecil, serta nektar. Di Australia bahkan ada yang menjadi hama di perkebunan anggur karena bertengger di tangkai dan melukai tanaman.

Jakarta, 14/3/2008 (Kominfo-Newsroom) – Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan suatu spesies burung baru dari Kepulauan Togian, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, yakni burung Kacamata Togian.

“Penemuan spesies baru dan pertelaan ilmiah ini dipublikasikan dalam Wilson Journal of Omithology edisi terbaru (Maret 2008), yang merupakan salah satu jurnal omitologi paling terkemuka di Amerika Serikat,” kata Peneliti Senior Dr. Dewi Prawiradilaga pada presentasi spesies di Kepulauan Togian, Sulteng dan peluncuran buku daftar jenis burung Indonesia di Museum Zoologi, LIPI, Cibinong, Jumat (14/3).

Burung Kacamata Togian dipertelakan dan diperkenalkan bagi ilmu pengetahuan 12 tahun setelah pertama kali diamati di lapangan. Penemuan lapangan dilakukan oleh Indrawan dan Sunarto, peneliti lapangan dari Universitas Indonesia.

Sementara pertelaan jenis baru tersebut diselesaikan melalui kerjasama dengan Dr. Pameia Rasmussen dari Michigan State University, seorang ahli taksonomi terkemuka di dunia yang mengambil spesialisasi spesies burung Asia.

Burung-burung kacamata merupakan kumpulan spesies yang bertubuh kecil, berwarna kehijauan, dan umumnya memiliki lingkar mata berwarna putih. Dalam perilaku, mereka sangat aktif bergerak dalam kelompok-kelompok kecil.

Indonesia memiliki berbagai spesies kacamata atau Zosterops. Di Sulawesi dan pulau-pulau sekelilingnya terdapat tidak kurang dari 10 satuan-satuan spesies dan sub spesies (taksa) yang di dalamnya terdapat enam spesies.

Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Rasmussen dkk, jumlah taksa tersebut di Sulawesi dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya mencapai 15 taksa, termasuk 9 atau 10 spesies Zostarops.

Sebaran berbagai taksa burung kacamata tersebut kebanyakan tidak tumpang tindih, dan beberapa spesies Kacamata hanya terdapat di satu atau dua bagian Pulau Sulawesi.

Dewi menjelaskan, burung Kacamata Togian berbeda dengan spesies Kacamata lainnya, karena tidak memiliki lingkaran putih di sekeliling mata. Mata spesies Kacamata Togian berwarna kemerahan, dan warna paruhnya lebih kemerahan di bandingkan yang lain.

Sayangnya, pada saat ditemukan, spesies Kacamata Togian harus langsung digolongkan genting kepunahan berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Walaupun di daratan utama Sulawesi burung-burung kacamata seringkali melimpah, kacamata Togian tersebut ternyata hanya ditemukan di pesisir beberapa pulau kecil di Kepulauan Togian, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan penemuan spesies baru burung kacamata tersebut, Kepulauan Togian pun memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai daerah burung endemik (DBE). Selain itu, berdasarkan kesepakatan pengetahuan konservasi (menggunakan kriteria yang dibuat oleh lembaga pelestarian internasional Bird Life International), hanya dibutuhkan dua spesies endemik (yang hanya terdapat di daerah tersebut, dan tidak terdapat di daerah lain), agar suatu daerah ditetapkan menjadi daerah burung endemik.

Direktur Puslit Biologi, LIPI, Dr. Dedy Damaedi, menyambut baik pentingnya kerjasama internasional, terutama untuk membangun kapasitas ahli biologi dan ahli konservasi bangsa Indonesia.

Menurutnya, mengingat lajunya penebangan hutan serta penurunan hutan tropika dan humida, maka penemuan spesies baru dan pelestariannya kini benar-benar berpacu dengan waktu, karena Indonesia sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dikawatirkan banyak spesies yang akan punah sebelum sempat dikenal ilmu pengetahuan. (T. Gs/mul/ toeb/b)

sumber: http://www.indonesia.go.id

Satu pemikiran pada “Burung Kacamata Togean

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s