Tipe-tipe hutan di Taman Nasional Lore Lindu

Tipe hutan dan vegetasi sangat bergantung pada faktor lingkungan, seperti ketinggian, temperatur, curah hujan, drainase, dan kondisi-kondisi tanah.   Pembatasan tipe-tipe yang ada dapat menjadi sulit karena transisi-transisi ini tidak terlihat dengan kasat mata.   Selain itu, interaksi antara faktor-faktor lingkungan dapat menciptakan variasi-variasi yang besar pada batas-batas penyebaran tipe–tipe tersebut.

Karena kurangnya informasi terpercaya yang tersedia saat ini tentang komposisi spesies dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi tipe-tipe vegetasi dalam wilayah TN. Lore Lindu,   sistem klasifikasi sederhana tetapi cukup memadai dikembangkan sampai sistem yang lebih disempurnakan dan detail dapat dibuat berdasarkan informasi yang utuh.   Sistem taksonomi asal untuk zona-zona tinggi yang diajukan oleh van Steenis (1950b) memberikan titik awal dan menjadi dasar penelitian yang dilakukan oleh Wirawan (1981).

Sembilan tipe vegetasi utama berikut, dikenal dalam wilayah TNLL, banyak berisi sub-divisi lebih lanjut:

  1. Rawa – wilayah-wilayah tidak terairi dengan baik pada berbagai tipe tanah dan pada beberapa ketinggian;
  2. Hutan kerangas – hutan kering musiman pada pojok baratlaut TNLL pada ketinggian rendah (300-700 m dpl);
  3. Dataran rendah – hutan yang terairi baik di sekitar batas-batas dari TNLL di bawah 900 m dpl;
  4. Pegunungan rendah – hutan antara 900-1.500 m dpl, pada wilayah yang terairi baik sampai tanah yang lembab;
  5. Pegunungan – hutan antara 1.300-1.800 m dpl;
  6. Pegunungan  tinggi – hutan di atas 1.700 m dpl;
  7. Hutan semak belukar – hutan yang terhalang pada tanah kering dengan akumulasi humus yang signifikan, terdapat pada beberapa ketinggian tetapi seringkali berada di atas ketinggian 1.800 m dpl;
  8. Hutan awan – hutan basah terhalang di atas 1.900 m dpl;
  9. Anthropogenik – variasi jenis yang luas, dari hutan-hutan tua sekunder, biasanya di bawah 1.500 m dpl, untuk membuka padang rumput.

1)    Rawa

Wilayah-wilayah ini biasanya berupa kantung air yang kecil (>5 ha) yang mengalir secara deras atau lambat, baik pada daerah hulu sungai-sungai kecil pada cekungan drainase sungai yang besar.  Contoh wilayah ini adalah di sebelah timur Danau Lindu.  Pohon-pohon pandan yang tinggi (tinggi >20 m), kebanyakan bercabang dengan akar-akar gantung, sering mendominasi tepi–tepi wilayah Danau Lindu ini, dengan campuran pohon-pohon Dacrydium sp.  Bagian-bagian terbuka dari rawa didominasi oleh rerumputan dan sejenis pohon sagu, dan disela oleh tandan-tandan semi-parasit berbunga ungu Burmannia distich, anggrek besar yang tumbuh di tanah (Phaius tankervilleae), tumbuh-tumbuhan yang merambat dan berbentuk kendi yang tumbuh di tanah (Nepenthes spp.) serta sebuah spesies berbunga putih dari Rhododendron (Erica.).  Jumlah dan musim dari air yang deras secara kuat akan mempengaruhi komunitas tumbuhan.

Beragam jenis rawa dataran tinggi (>1.700 m dpl) terdapat pada bagian-bagian baratdaya dan timurlaut dari TNLL.  Sepanjang jalan menuju lintas Lembah Napu, beberapa jalan setapak menuju ke arah danau yang dekat dengan puncak  Rorekatimbu.  Karena terisolasi dan secara radikal berbeda dari hutan-hutan pegunungan sekitar,  rawa dataran tinggi ini merupakan komponen penting dan  sangat rentan dari kekayaan keanekaragaman hayati TNLL.  Sebuah studi perbandingan antara daerah-daerah rawa yang lebih luas di dalam dan di sekitar dua enklaf serta rawa-rawa dataran tinggi dapat menghasilkan hasil yang menarik.

2)       Hutan Karangas/hutan monsoon

Hutan Karangas hanya ditemukan di perpanjangan barat laut TNLL.  Hutan-hutan ini mengalami periode musim kering yang lebih dari tiga bulan dalam setahun dan mungkin merupakan salah satu dari sedikit contoh dari hutan Karangas di wilayah kepulauan di katulistiwa (van Balgooy dan Tantra, 1986).  Belum ada survei mengenai hutan karangas, karena itu sedikit sekali informasi yang diketahui tentang komposisi spesiesnya.  Pterospermum cf. diversifolium (Sterc.), sebuah spesies pioner (Webb dan Yani, 1999) mendominasi satu plot yang dijadikan sampel di wilayah tersebut.  Tidak ada wilayah hutan karangas secara utuh ditemukan dan mungkin berada dalam hutan yang kondisinya telah rusak, membuat mereka sangat rentan.   Upaya untuk menemukan dan mengkaji status konservasi wilayah hutan karangas yang masih utuh seharusnya menjadi prioritas sehingga upaya ini dapat memberikan informasi mengenai komposisi endemik yang penting.

3)       Hutan dataran rendah

Hampir 90% dari wilayah TNLL berada pada ketinggian di atas 900 m dpl, oleh sebab itu, hutan dataran rendah hanya berkontribusi kecil pada jenis – jenis  vegetasi yang ditemukan di TNLL.   Karena berada pada ketinggian yang lebih rendah sepanjang wilayah-wilayah perbatasan TNLL, tipe hutan ini hanya akan ditemukan di bidang-bidang sempit dekat sungai yang membentuk batas TNLL.  Hutan dataran rendah yang berbentuk bidang-bidang sempit ini sering ditemukan pada lereng-lereng curam dan dipengaruhi oleh kegiatan manusia (Webb dan Yani, 1999).  Sejumlah kecil luasan hutan dataran rendah yang masih utuh terdapat dalam perbatasan-perbatasan TNLL.  Tidak banyak survei floristik yang telah dilaksanakan sehingga tidak banyak terdapat informasi tentang komposisi taksonomi yang orisinal.  Sejumlah  spesies seperti Artocarpus vriesianus (Morac.) dan Elmerillia ovalis (Magno.), disebutkan oleh Wirawan (1981) sebagai karakteristik spesies dataran rendah dan tercatat pada pegunungan lembab yang lebih rendah serta hutan-hutan sekunder tua yang berada pada ketinggian antara 1.000-1.300 m dpl.  Kehadiran dari spesies-spesies ini pada wilayah dataran rendah mungkin dipengaruhi oleh kondisi lembab karena lokasi yang berada dekat sungai.   Spesies dari Dipterocarpaceae biasanya mendominasi wilayah yang terairi dengan baik pada lereng-lereng sedang sampai datar, tetapi para ahli botani mencatat bahwa sangat sedikit individu dari keluarga ini dalam batas-batas TNLL.  Laporan-laporan visual yang dilakukan oleh anggota Awam Green dalam kunjungannya ke wilayah-wilayah dekat perbatasan sebelah barat TNLL menyatakan bahwa terdapat hutan – hutan yang masih utuh, tetapi saat ini  tercatat telah berkurang karena telah diambil kayunya.  Studi lebih jauh dari jenis – jenis langka  harus segera dilaksanakan .  Selain itu, perlu dilakukan upaya-upaya identifikasi dan perlindungan hutan dataran rendah yang belum tergangu di luar wilayah TNLL.

4) Hutan pegunungan rendah

Karena lereng-lereng curam sungai sepanjang Lembah Kulawi, mayoritas dari hutan pegunungan yang rendah ditemukan pada dua DAS internal; perbedaan pada kondisi drainase mempengaruhi struktur dan komposisi tipe hutan ini.  Transisi antara dataran rendah dan hutan-hutan pegunungan yang rendah pada lereng-lereng yang terairi dengan baik di bagian luar nampaknya cukup tajam.  Namun demikian, sulit untuk menguraikan faktor-faktor manusia dan lingkungan dalam hutan pengunungan rendah ini.   Famili dari Sapotaceae dan Fagaceae mendominasi hutan pegunungan rendah yang terairi dengan baik,  sementara banyak dari spesies-spesies individu seperti Acer niveum (Acera.), Bruinsmia styracea (Styra.), dan Santiria sp. (Burse.), merupakan karakteristik (tetapi tidak terbatas pada) sub-tipe hutan ini.  Annonaceae, Moraceae, dan Lauraceae juga merupakan famili yang sering ditemukan dan tersebar di wilayah ini.  Pohon-pohon palem yang tumbuh di darat (Calamus sp.) dan tumbuh-tumbuhan kayu merambat juga umum ditemui.  Pohon-pohon yang lebih besar dari 60 cm DBH sering ditemui dan kanopi yang ada tersusun secara baik, tertutup, dan berlapis-lapis.

Struktur dan komposisi hutan dalam kondisi sulit air terutama berada pada DAS internal.  Hal ini berarti bahwa struktur dan komposisi hutan ini memiliki tingkat gangguan alamiah lebih tinggi dan mengalami banjir musiman. Kanopi pada wilayah-wilayah ini sering agak terkoyak dengan pohon-pohon individu yang tersisolasi dan strata terendah dari kanopi tertutup rapat oleh pohon-pohon kecil.  Sulit untuk membedakan gangguan manusia dengan gangguan alam pada tipe hutan ini.  Hutan-hutan pegunungan yang rendah pada bagian utara lereng-lereng Gunung Nokilalaki sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia.  Tetapi ke arah timur enklaf Besoa dekat batas TNLL, hutan – hutan ini hampir tak dapat dibedakan karena memiliki kondisi yang sama namun mengalami sedikit atau tidak ada sama sekali gangguan manusia. Sebagian besar individu pohon beringin (Ficus, Morac.) dan beberapa spesies pohon uru (Elmerillia dan Manglietia (Magno.) sangat penting keberadaannya. Eucalyptus deglupta (Myrta.) tumbuh hampir di tempat yang murni sepanjang sungai dan anak sungai. Pigafetta filaris (Arace.) juga sering tumbuh dekat sungai dan anak sungai.  Spesies pionir tahap akhir sering ditemui dan dapat mencapai ukuran yang besar seperti Octomeles sumatrana (Datis.), Duabanga moluccana (Sonne.),  dan Cinnamomum sp. (Laura.).  Pohon yang umum dan berbeda lainnya adalah Bischofia javanica sp. (Eupho.), dengan kulit kayu coklat tua, melengkung berlapis-lapis, berdaun tiga, dan getah merah pada bagian dalam kulit kayunya.  Semak-semak yang tumbuh biasanya cukup lebat, dengan spesies beraneka macam dari Elatostema (Urtic.), Piper (Piper.), dan Impatiens (Balsa.) membentuk hampir seperti lapisan daun hijau yang tidak terputus-putus.  Tumbuhan pemanjat pohon sering ditemukan di daerah ini.

Di wilayah-wilayah datar aluvial pada DAS di tengah Napu, sebelah utara Besoa, terdapat wilayah luas yang hampir seluruhnya berupa hutan pegunungan  berawa, sebagaimana dinyatakan oleh Wirawan (1981).  Di sini terdapat famili-famili Magnoliaceae dan Annonaceae yang mendominasi pepohonan yang tumbuh dan Dysoxlum spp. serta Aglaia spp. (Melia.) adalah pohon-pohon yang umum ditemui di wilayah kanopi tengah.  Bunga putih besar yang wangi dan berdaun bulu tebal dari spesies hemi-epifit Fagraea (Logan.) sering dijumpai pada lantai hutan dan tumbuh sepanjang tepi sungai.  Sedikitnya tiga spesies dari Saurauria (Saura.) ditemui di tepi sungai dan sedang dalam berbunga. Terdapat pula wilayah yang dipadati oleh tumbuhan liana dan rotan.  Tempat yang dipadati oleh Elatostema (Urtic.) dengan individu yang tersebar dari Impatiens (Balsi.) ditemukan di semak-semak.

Tipe vegetasi ini seharusnya dimasukkan ke dalam sub-divisi hutan pegunungan rendah dengan kondisi air yang baik dan lembab karena perbedaan-perbedaan yang signifikan pada komposisi dan struktur.  Klasifikasi ini berhubungan dekat dengan tipe hutan sub-pegunungan yang dibuat oleh Wirawan.  Transisi antara hutan pegunungan rendah dengan hutan pegunungan sering cukup tajam.  Walaupun banyak  spesies dari pegunungan rendah dapat ditemukan pada hutan-hutan pegunungan, mereka tidak umum dan komposisi dari spesies dominan sering berubah secara dramatis di sekitar ketinggian 1.500 m dpl.

5) Hutan pegunungan

Di atas ketinggian dari rangkaian pegunungan utama yang berliku-liku ke arah tengah TNLL, tipe hutan ini dibatasi oleh puncak-puncak punggung pegunungan yang sempit dan bukit-bukit yang terisolasi, terutama pada wilayah yang memotong DAS.  Sebagaimana tercatat di atas, transisi ke dalam tipe hutan ini biasanya dapat ditandai oleh perubahan dramatis pada komposisi spesies dari pohon-pohon yang ada dan umumnya keanekaragaman spesies lebih rendah daripada yang terdapat di hutan-hutan pegunungan yang rendah. Sebuah indikator yang jelas dari tipe hutan ini adalah kehadiran dari Castanopsis accuminatissima (Fagac.).  Secara lokal dikenal sebagai “kaha” atau “haleka”,  pohon-pohon ini dapat membentuk hampir 60-70% dari tempat mereka hidup dan dapat dikenali secara mudah dengan banyaknya batang pohon dan batang tipis yang muncul dari dasar individu tunggal, demikian juga warna warni agak keemasan dari bawah daunnya.  Beberapa spesies lainnya umumnya diasosiasikan dengan kaha, terutama “lihu” atau “tawako” – Tristania whiteana (Myrta.) dan “betau” – Calophyllum sp. (Clusi.).  Spesies myrtus ditemukan pada altitud yang lebih tinggi dari kaha dan terbatas pada wilayah-wilayah yang lebih kering.  Batang kayunya yang licin dan terkelupas sama dengan Eucalyptus, tetapi berwarna putih kecoklatan.  Lihu dapat membentuk batang yang utuh, terutama pada punggung-punggung bukit dengan tanah tipis.  Mahkota-mahkota yang hampir terbungkus dari tempat-tempat ini dapat dilihat pada lereng-lereng pegunungan yang menghadap enklaf Besoa, karena mereka mengikuti kontur punggung bukit yang ada.  Daun-daun dari Calophyllum berbeda bentuknya, kaku dan lembut dengan barik-barik paralel yang rapat.   Kulit kayu sebelah luar jenis ini dikelilingi oleh ikatan-ikatan kuning belerang dan memiliki getah putih terang sampai kuning pada batang kayu sebelah dalamnya.

Batas-batas elevasi tipe hutan sepanjang TNLL ini sangat bervariasi dan faktor-faktor penyebab lingkungannya tidak jelas.  Sering ditemui bagian – bagian dengan keanekaragaman spesies yang tinggi dan sedikit dominasi kaha dan lihu .  Kadang – kadang, spesies yang berbeda seperti Podocarpus neriifolius (Podoc.) dan Dacrydium imbricatus (Podoc.), dapat memiliki tingkat dominasi cukup tinggi pada saat kaha tidak ditemui.  Mayoritas tanah yang ada mendapat pengairan yang baik, walaupun bagian – bagian dari  wilayah – wilayah yang tidak terairi dapat ditemukan pada wilayah-wilayah punggung yang tinggi dari rangkaian pegunungan utama.  Semak-semak yang sering ditemui biasanya agak tipis, terutama pada wilayah-wilayah yang lebih kering dan perubahan karakteristik tumbuhan ini terutama berlokasi pada transisi ke hutan pegunungan tinggi. Secara khusus, Drymis piperta (Winte.), semak-semak kecil yang bercabang menghasilkan tandan-tandan bunga putih dan beberapa spesies dari Alpinia (Zinge.) umum ditemukan seiring dengan peningkatan kelembaban dan ketinggian.  Pada Gunung Nokilalaki, komposisi spesies pohon dan semak-semak sangat berbeda, mungkin karena kondisi yang sangat basah dari gunung tersebut. ‘Kaha’ memiliki kemungkinan kecil untuk ditemui dan hanya sebuah populasi ‘lihu’ yang terbatas saja yang tercatat.  Keanekaragaman spesies nampaknya cukup tinggi.

Dominasi kaha sepanjang TNLL pada ketinggian sedang layak untuk ditelaah lebih lanjut.  Bentuk pertumbuhan yang tidak biasa dari jenis – jenis di atas diketahui  biasa didapati di hutan-hutan tropis mono-dominan yaitu hutan-hutan Dicymbe di Guyana.  Kaha juga memiliki sebuah asosiasi ikatan dengan simbion-simbion ectomycorrhizal (ECM) contohnya seperti Amanita spp., Russula spp., dan Botelus spp., ciri lain dari hutan-hutan mono-dominan secara umum.  Mungkin saja terdapat tingkat-tingkat dominasi yang tinggi karena pengambilan nutrisi yang efisien melalui simbiosis ini.  Pada bagian lain, hutan-hutan mono-dominan biasanya terjadi pada tanah-tanah tua yang miskin, bukan tanah-tanah yang relatif muda di TNLL.  Tingkat ketinggian dari spesies ini juga cukup luas (1.300-1.900 m dpl), tetapi spesies ini sangat banyak mendominasi pada ketinggian antara 1.400-1.600 m dpl pada puncak-puncak punggung bukit.  Jumlah curah hujan mungkin mempengaruhi tingkat dominasi spesies ini, karena tekanan air akan meningkatkan dominasi suatu spesies.  Seperti misalnya di Gunung Tuwo dimana sebuah hutan ‘kaha’ ditemukan di sepanjang jalan menuju puncak pada ketinggian 1.900 m dpl.  Hal ini mungkin karena wilayah tersebut menerima sedikit curah hujan daripada bagian sebelah selatan pegunungan tersebut.

Kelompok spesies lain yang banyak dan beragam jenisnya dalam tipe hutan ini adalah genus Eugenia (Myrta.).  Walaupun tidak ada satu pun spesies tunggal yang mendominasi, genus ini secara keseluruhan memiliki proporsi yang besar terhadap tempat tersebut. Sepanjang kawasan Asia Tenggara, pohon-pohon ini sangat beragam jenisnya dan tumbuh subur pada habitat yang terairi dengan baik.  Secara taksonomi genus ini juga cukup sulit dan menjadikannya sebuah tantangan utama bagi ahli botani lapangan di kawasan ini.  Keluarga myrtus, termasuk Eucalyptus dan Tristania, pada prinsipnya memiliki hubungan simbiosis dengan jamur melalui akar mereka, baik ECM atau VAM (Vasicular arbuscular mycorrhizae).  Eksplorasi lebih lanjut dari simbiosis-simbiosis yang lazim antara pohon dan jamur seharusnya menjadi sebuah fokus utama dalam studi-studi  vegetasi yang bersifat ekologi. Di wilayah tropis, peran fundamental jamur secara luas seringkali diabaikan dan dilalaikan.  Bunga-bunga jamur seringkali tidak diketahui dan keterbatasan jumlah ahli yang mengetahui hal ini juga merupakan hambatan utama.  Survei-survei dasar, baik melalui badan buah, cetakan-cetakan spora, atau pengambilan molekular yang berurut seharusnya dilaksanakan.  Foto digital dapat juga menjadi sebuah bentuk dokumentasi yang berguna, karena banyak ciri-ciri kunci, seperti warna dan bentuk umum sering hilang selama pengeringan.

6)        Hutan pegunungan tinggi

Tipe hutan ini umumnya ditemukan di atas 1.800 m dpl, agak terbatas jumlahnya (juga <10%), tetapi secara mengejutkan mewakili komunitas yang beragam.  Indikator yang paling mudah dari hutan ini adalah pohon tegak Dawsonia (berduri dan seperti pohon natal, tumbuh-tumbuhan lumut ini sering memiliki tinggi.  Tumbuh-tumbuhan bambu kecil, seperti Begonia spp. (Begon.), Elatostema spp. (Urtic.) dan Cyrtdanra spp. (Scrop.) cukup beragam dan sering ditemui di semak-semak di bawah kondisi-kondisi basah.  Individu-individu yang terpencar dari Agathis cf. celebica (Aurac.), Ternstroemia spp. (Theac.), Lithocarpus spp. (Fagac.), dan Phyllocladus hypophyllus menggantikan kaha dan lihu sering ditemukan pada ketinggian yang lebih rendah. Famili-famili dari Lauraceae dan Myrtaceae juga sering ditemukan dan bermacam-macam jenisnya disini.  Pohon-pohon pakis, Cyathea spp. (Cyath.), beberapa spesies pandan, Pandanus spp. (Panda.), dan palem pinang (Arenga spp.) adalah pohon-pohon kecil yang umumnya tumbuh di bawah pohon besar di hutan ini.  Sayangnya, transisi antara hutan pegunungan dan hutan pegunungan tinggi agak sedikit sulit.  Hal ini terutama karena individu kaha yang tersebar di atas ketinggian 1.800 m dpl dan ‘ciri’ dari pohon-pohon kecil yang tumbuh di bawah pohon besar serta tanaman semak-semak sering ditemukan pada dua tipe hutan tersebut.

7)       Hutan Awan

Hutan Awan merupakan tipe hutan yang sangat berbeda dan dapat ditemukan dalam TNLL terutama di ketinggian di atas 1.700 m dpl.  Berada pada segmen – segmen terisolasi dan agak kecil (1-15 ha) pada puncak-puncak punggung dan pelana bukit.  Tanahnya tertutup oleh akumulasi bahan humus yang tebal dan struktur hutannya hampir seluruhnya terdiri dari pohon-pohon ramping, kebanyakan berbungan merah dan putih Rhododendron sp. (Erica.), serta memiliki sebuah daun kecil Eugenia (Myrta.).  Kadang-kadang individu-individu yang terhalang, mencapai diameter yang besar dapat ditemukan di sini, khususnya Phyllocladus hypophyllus (Podoc.).  Tumbuh-tumbuhan bambu berbunga putih dan semi parasit Burmannia sp. (Burma.), serta tumbuhan yang bentuknya seperti tempat air yang merambat  Nepenthes sp. (Nepen.), banyak sekali jumlahnya.  Transisi diantara tipe hutan ini dan tipe-tipe di sekelilingnya bersifat tiba-tiba dan dapat dikenali dengan jelas.

Pada puncak-puncak gunung di atas ketinggian 2.000 m dpl, hutan ini dibedakan oleh pertumbuhan tebal dari tumbuhan lumut dan sejenis pohon kecil jamur dan alga yang menutupi batang, ranting, dan bahkan daun dari pohon-pohon yang ada.  Kelembaban yang tinggi dan penyekatan dari sinar matahari karena tutupan awan yang konstan pada wilayah-wilayah ini menjadikan komunitas briofit yang tumbuh lebat. Mayoritas dari pohon-pohon tersebut terhalang dan miring.  Walaupun tidak dapat dibandingkan dengan hutan-hutan pada ketinggian yang rendah, survei-survei yang dilakukan pertama kali untuk tipe hutan ini merekomendasikan bahwa hutan awan memiliki komunitas yang kaya, termasuk beragam Eugenia spp. (Myrta.), Weinmannia cf. descombesiana (Cunon.), dan beberapa genus Theaceae.  Sebagian besar pohon-pohon yang diamati pada tipe hutan ini sedikit sekali diketahui dan relatif sedikit yang dapat diidentifikasikan ke dalam suatu famili.

8)      Hutan  Anthropogenik

Kegiatan manusia selalu memiliki dampak yang sangat besar pada vegetasi TNLL.  Kegiatan manusia ini berkisar dari aktivitas kecil seperti pengambilan getah damar dari pohon-pohon Agathis serta pengumpulan rotan (Calamus spp.) sampai ke dampak yang besar seperti pembukaan dan pembakaran hutan untuk sawah perbukitan, perkebunan kopi dan coklat, serta pembukaan padang rumput untuk penggembalaan  binatang ternak.  Seperti pada umumnya jenis – jenis gangguan, aktivitas ini memiliki dampak positif dan negatif pada kondisi keseluruhan dari vegetasi di TNLL.  Meskipun pembukaan hutan untuk padang rumput menyebabkan wilayah cakupan dan meningkatkan lahan kosong serta fragmentasi, padang rumput yang ada di enklaf Besoa masih tetap stabil.  Jika dikelola secara baik, aktivitas – aktivitas tersebut dapat menyebabkan introduksi vegetasi yang sebelumya tidak ada di dalam ekosistem TNLL.  Identifikasi hutan-hutan anthropogenik dan status masa depannya menjadi hal kritis untuk dimaksimalkan efek-efek positifnya dan diminimalkan efek-efek negatifnya.

9)         Padang rumput

Padang rumput terutama ditemukan di dalam dua enklaf.  Namun demikian, padang rumput juga meluas sampai ke TNLL, khususnya sebelah barat dari jalan antara enklaf Katu dan Besoa (Gb. 20).  Komposisi spesies di wilayah-wilayah ini termasuk rendah, terutama tersusun dari enam atau tujuh spesies rumput dan Melastoma sp. (Melas.).  Penduduk desa dan jagawana melaporkan bahwa wilayah –wilayah ini dibakar setiap empat sampai lima tahun sekali untuk mendapatkan pertumbuhan rumput-rumput lebat kembali.  Tepian padang rumput ini sangat tajam, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda erosi.  Terdapat beberapa jenis tumbuhan pionir klasik, seperti Macaranga (Eupho.)  Trema or Celtis (Ulmac.), dan dalam jarak beberapa ratus meter dari tanah kosong tersebut, hutan ini tidak dapat dibedakan dari regenerasi sekunder biasa.  Padang – padang rumput ini telah ada selama puluhan bahkan mungkin ratusan tahun.  Studi perbandingan stabilitas margin/tepian serta regenerasi antar enklaf dan tepian luar batas TNLL harus diupayakan.

Regenerasi sekunder

Regenerasi sekunder terdapat di sepanjang perbatasan TNLL sebagai hasil dari pembukaan hutan untuk lahan sawah perbukitan.  Hal ini sejalan dengan meningkatnya fokus upaya – upaya desa untuk mengolah sawah basah, frekuensi dari tipe gangguan dalam TNLL nampaknya menjadi berkurang.  Regenerasi sekunder yang sangat tua terdapat pada wilayah – wilayah datar dekat sungai dari batas air Katu yang merupakan tempat asal dari Toro.  Hal ini tak dapat dibedakan dari hutan-hutan pegunungan rendah yang muncul di wilayah – wilayah ini. Sebagai perbandingan terhadap beberapa wilayah yang hutannya masih utuh, seperti sebelah timur lereng Gunung Tuwo, keanekaragaman spesies dari hutan-hutan di bawah ketinggian 1.400 m dpl mungkin sebenarnya meningkat karena aktivitas manusia, terutama di wilayah-wilayah yang lebih kering.  Castanopsis acuminatissima sebenarnya mendominasi hutan-hutan pegunungan yang lebih rendah sampai ketinggian 1.300 m dpl.  Selain itu, pembukaan hutan dari komunitas ini mungkin sebenarnya akan menjadikan hutan yang lebih beragam yang dibentuk oleh komunitas itu sendiri.  Bagaimanapun juga, diperlukan waktu yang cukup bagi hutan – hutan tersebut untuk kembali pulih dan frekuensi dari gangguan yang ada harus dijaga agar tetap minimal.  Hutan yang terdegradasi berat dapat ditemukan di antara enklaf Katu dan Besoa dimana serangkaian komunitas yang bercampur dengan komunitas padang rumput, yeitu kedudukan pohon – pohon yang terdiri dari kelompok – kelompok yang didominasi oleh sedikit jumlah spesies pohon.  Wilayah-wilayah ini nampaknya tidak kembali ke bentuk semula yang tertutup dan berstruktur tinggi karena regenerasi dari tahapan terakhir suksesi dari pohon-pohon tersebut sedikit sekali tercatat.

Source: Laporan Penelitian TNC

Satu pemikiran pada “Tipe-tipe hutan di Taman Nasional Lore Lindu

  1. Sore. Salam kenal bro. Bisa info kan data dan foto tumbuhan: Artocarpus sp, Garcinia sp, Nephelium sp, Cinnamomum sp, Aquilaria sp, Eucalyptus, Diospyros, juga sarangsemut Myrmecodia dan Hydnophytum, dan jenis Araceae, khususnya Amorphophallus sp pegunungan rendah yg ada di sulawesi? Apakah Eugenia sp yg di maksud dlm tulisan Syzygium? Krn Eugenia harusnya bukan di belahan Asia. Apakah juga pernah menemukan Prainea sp di sulawesi? Jika tidak keberatan mohon minta no contact bro. Email sy: tks4ady at gmail dot com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s