PVC pengganti Kayu Yang Ramah Lingkungan

PVC biasa dikenal dalam bentuk pipa untuk air dan listrik saja.  Untuk membangun rumah, kebanyakan masyarakat di Indonesia masih menggunakan bahan baku yang berasal dari logam, keramik, gypsum, serta kayu. Sampai saat ini belum banyak masyarakat yang tahu dan terbiasa menggunakan bahan PVC untuk membangun rumah.

Di negara-negara maju, karena sulitnya dan semakin mahalnya bahan baku kayu, bahan bangunan kini telah beralih menggunakan produk PVC. Tak heran jika pelanggan terbesar PVC adalah sektor bangunan (kabel, rangka, pintu, dinding, panel, dan pipa) serta perumahan (lantai, kertas dinding, penyemu kaca jendela, dan tirai kamar mandi).

Semua bahan baku untuk rumah bisa menggunakan bahan PVC. PVC yang terbuat dari plastik serbaguna bisa digunakan untuk plafon, dinding, partisi, lantai, dan sebagainya. PVC sendiri juga bisa menjadi pengganti produk lain seperti gypsum, triplek, kayu, keramik, wallpaper, cat, dan sebagainya. Dari segi pemasangan, PVC bisa terbilang cepat, praktis, dan tidak mengakibatkan retak atau gelombang. Masalah yang terjadi saat menggunakan bahan lain bisa diatasi oleh PVC.

PVC juga bisa digunakan pada dinding, lantai, atau plafon. Bentuk, warna, dan coraknya yang lebih terang membuat terlihat lebih ekslusif. Seperti corak mirip kayu jati sangat elegan dipakai sebagai plafon. Untuk corak, PVC menawarkan berbagai macam, mulai corak kayu, silver aluminium, putih, garis, wallpaper, dan sebagainya. Ada berbagai corak, sebut saja plafon PVC dengan corak mirip kayu.

Dituturkan, ada berbagai alasan orang memilih menggunakan bahan PVC. Antara lain karena tahan air, anti rayap, pemasangan cepat, peredam panas, peredam api, ringan, bebas perawatan, dan sebagainya. Walaupun PVC terbuat dalam kandungan plastik, namun jika terbakar akan menciut karena meredam api. Pokoknya pakai PVC itu aman.

PVC tidak hanya digunakan sebagai interior. Di luar ruangan PVC juga elok dilihat meski lebih kasar namun warnanya lebih terang sehingga terkesan mewah. Soal harga, PVC cukup terjangkau dan lebih hemat. Harga yang dipasarkan berkisar antara Rp160 ribu hingga Rp230 ribu per meter persegí. Jadi, tak ada salahnya untuk berinovasi beralih ke PVC.

Penemuan PVC

POLYVINYL Chloride (PVC) pertama kali ditemukan pada 1872. Saat itu secara tak sengaja orang menemukan serbuk putih dalam botol berisi gas vinil klorida yang terekspos sinar matahari. Setelah 54 tahun kemudian berkembang hingga ditemukan teknik pemanfaatan serbuk putih yang kini disebut PVC itu. Awalnya, usaha pemanfaatan PVC banyak menemui jalan buntu karena sifatnya yang mudah rusak jika dipanaskan. Padahal pemanasan merupakan cara pengolahan yang paling logis, mengikuti analogi pengolahan besi, gelas, serta beberapa bahan polimer organik yang ketika itu sudah ditemukan.

Pada 1926, seorang peneliti pada perusahaan ban BF Goodyear menemukan bahan elastomer thermoplastik pertama di dunia (bahan elastis yang dapat diubah bentuknya jika dipanaskan). Penemuan ini dilakukan saat usahanya mencari formulasi lem untuk merekatkan karet ke logam. Dimana terjadi saat memanaskan PVC dalam cairan tricresyl

phosphate atau dalam dibutyl phthalate. Hasilnya PVC dapat bercampur sempurna dengan masing-masing zat, yang kemudian lazim disebut plasticizer. Lewat berbagai ujicoba akhirnya menghasilkan bahan baru dengan sifat yang dapat direkayasa, mulai dari yang keras, ketika hanya sedikit plasticizer dicampurkan dengan PVC, hingga yang sangat elastis, ketika komponen terbesar dalam campuran itu adalah plasticizer.

Terobosan teknis ini merupakan awal dari revolusi penggunaan PVC sebagai komoditi plastik. Semua untuk memermudah pemrosesan serta memberinya sifat elastis yang cocok untuk berbagai aplikasi seperti kulit imitasi, plastik untuk alas meja, dan sebagainya. Terobosan teknis kedua berupa berkembangnya teknologi formulasi PVC dengan penggunaan zat-zat yang lazim disebut stabilizer, processing aid. Yang tak kalah penting, perkembangan teknologi mesin pemroses PVC sehingga dimungkinkan pemrosesan PVC tanpa kandungan plasticizer.

Bisa dibilang PVC merupakan bahan plastik paling luwes karena dapat diformulasi dan diproses menjadi produk dengan sifat yang sangat berbeda, mulai dari yang Berawal dari Serbuk Putih paling keras seperti pipa hingga yang lunak dan fleksibel.

Ramah Lingkungan

PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama, yaitu minyak bumi dan garam dapur (NaCl). Selama ini beredar mitos pembakaran sampah PVC memberikan kontribusi besar terjadinya dioxin. Dioxin dapat dihasilkan dari pembakaran bahan-bahan organoklorin, yang sebenarnya banyak terdapat di alam (dedaunan, pepohonan). Sebuah penelitian yang dilakukan New York Energy Research and Development Authority pada 1987 menyimpulkan, ada atau tidaknya sampah PVC tidak berpengaruh terhadap banyaknya dioxin yang dihasilkan dalam proses insinerasi/pembakaran sampah. Kontribusi terbesar terjadinya dioxin adalah kebakaran hutan, hal yang justru tidak banyak diekspos.

Kandungan klor (Cl) dalam PVC diketahui memberikan sifat-sifat yang unik bagi bahan ini. Tidak seperti umumnya bahan plastik yang merupakan 100% turunan dari minyak bumi, sekitar 50% berat PVC adalah dari komponen klor yang menjadikannya sebagai bahan plastik yang paling sedikit mengonsumsi minyak bumi dalam proses pembuatannya.

Relatif rendahnya komponen minyak bumi dalam PVC menjadikannya secara ekonomis tahan terhadap krisis minyak bumi yang akan terjadi di masa datang. Ini sekaligus menjadikan sebagai salah satu bahan yang paling ramah lingkungan.

Walaupun PVC merupakan bahan plastik dengan volume pemakaian kedua terbesar di dunia, sampah padat di negara-negara maju yang paling banyak menggunakan PVC-pun hanya mengandung 0,5% PVC. Hal ini dikarenakan volume pemakaian terbesar PVC adalah untuk aplikasi-aplikasi berumur panjang, seperti pipa dan kabel. Sampah PVC juga dapat diolah secara konvensional, seperti daur ulang, ditanam, dan dibakar dalam insinerator (termasuk pembakaran untuk menghasilkan energi).

PVC juga dianggap menguntungkan untuk aplikasi sebagai pembungkus (packaging). Suatu studi pada 1992 tentang pengkajian Daur hidup berbagai pembungkus/wadah dari gelas, kertas kardus, Kertas, serta berbagai jenis bahan plastik termasuk PVC menyimpulkan, PVC merupakan bahan yang memerlukan energi produksi terendah, emisi karbon dioksida terendah, serta konsumsi bahan bakar dan bahan baku terendah di antara bahan plastik lainnya. Bahkan sebuah kelompok pecinta lingkungan Norwegia, Bellona menyimpulkan, pengurangan penggunaan bahan PVC secara umum akan memperburuk kualitas lingkungan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s