Menyusuri Sungai Lesan, Berau

Awal bulan mei 2010 ini saya berkesempatan untuk mengunjungi kawasan hutan lindung Sungai Lesan di Kabupaten Berau Kaltim mengikuti acara yang diselenggarakan TNC Kalimantan untuk para jurnalis di Kaltim.  Dari Kota Tanjung Redeb ibukota kabupaten Berau, perjalanan ke Lesan harus ditempuh selama 3 jam perjalanan darat ke sebuah kampung bernama Muara Lesan.   Menggunakan Strada4WD, perjalanan ke Muara Lesan ini cukup mengasyikkan juga, 1 jam pertama dari Kota Tanjung Redeb, kita menyusuri jalan aspal halus dan setelah itu jalanan rusak khas Kalimantan mulai menggoyang badan kesana kemari.  Debu jalanan mengepul tebal saat kami berpapasan  dengan mobil tangki pengangkut CPO.   Setelah itu kami menyusuri ke jalan tanah yang menuju Muara lesan melepaskan diri  dari jalanTrans Kalimantan yang ke arah Wahau.  Sampai di Muara Lesan nampak Sungai Kelay yang lebarnya sekitar 30 m, mengalir dengan derasnya membawa partikel tanah lepas yang menjadikan airnya berwarna coklat pekat. Muara Lesan sendiri adalah salah satu  Perkampungan Suku Dayak Lesan yang menghuni daerah ini.  Sebuah dermaga kayu menjadi tempat berlabuh bagi beberapa perahu ketinting di bawahnya. Di seberang sungai nampak tumpukan log kayu dan buldozer kuning milik sebuah perusahaan HPH.  Perjalanan selanjutanya adalah menyusuri Kali Kelay selama satu jam, kemudian berbelok memasuki perairan Sungai Lesan.

ganti mesin katinting

Dari Muara lesan ini kami akan menyusuri sungai Lesan ke stasiun riset TNC di daerah Lejak, melewati desa Lesan Dayak.  Di daerah ini Hutan Lindung Sungai Lesan dan ada empat perkampungan yang berdekatan dengannya : Yaitu Muara Lesan,Lesan Dayak, Sidobangen dan Merapun. Menyusuri sungai berarus deras kalimantan dengan ketinting merupakan pengalaman baru buat saya.  Motor ketinting menderu membelah arus sungai yang dipinggirnya ditumbuhi tanaman hutan yang menjulang tinggi.  Belum jauh dari muara lesan, motor ketinting macet dan perahupun terhanyut kearah muara. Namun kami percaya saja pada tekong (juru mudi ketinting) itu bahwa dia bisa mengatasi motornya.   Entah berapa kali motor ketinting ini mogok, sepertinya bensin tidak mengalir dengan baik.  Akhirnya Jam 5.30  sore lewat kami tiba di Desa Lesan Dayak. Dan untuk bisa melanjutkan perjalanan, motor katinting pun ditukar pinjam dengan warga lesan dayak karena kami harus melewati jeram yang cukup berbahaya di depan.  Sehingga kondisi motor harus fit benar.  Sepanjang perjalanan dari Lesan Dayak ke Lejak kami beberapa kali menjumpai kawanan Monyet Belanda (Nasalis larvatus) yang berloncatan dari dahan-kedahan di pinggir Sungai.   Matahari semakin redup namun kami belum sampai juga di tempat tujuan,sayap serangga malam berdesingan melontarkan suara yang tak kalah kerasnya dengan motor katinting ini.  Lepas dari kampung Lesan Dayak masih ada jeram didepan yang menunggu ternyata motor pinjaman ini agak macet-macet juga.  Tetapi  syukurlah kami berhasil melewati beberapa jeram yang berbahaya dan sekitar  jam 7 akhirnya kami tiba di tempat tujuan, saat lewat sebuah tikungan sungai nampak cahaya lampu yang menandakan kami telah dekat.

jalur tracking

Malam kami lewati dengan diskusi lingkungan dengan para Wartawan dan Biro Humas Pemda se Kaltim dan minum kopi di pondok stasiun riset ini di tengah temaram cahaya bulan yang tidak lagi bulat.  Meski di tengah hutan tidak ada nyamuk dan agas di tempat ini, hingga tidurpun begitu lelap sampai mentari pagi menerobos celah dedaunan membangunkan jiwa dari alam mimpi.  Pagi hari usai makan makan pagi kami bersiap tracking ke dalam hutan lindung Sungai Lesan.  Jalur Tracking sepanjang 2,5 km cukup enak dilewati dengan konblok semen tebal yang ditanam dalam tanah.  Di samping kiri dan kanan jalur tracking terdapat pohon-pohon Hutan kalimantan ukuran besar dilengkapi dengan namanya.  Tempat ini biasa dikunjungi tamu-tamu dari luar negeri yang ingin melihat alam kalimantan yang masih Asli.  Akhirnya kami pun tiba di menara pandang setinggi 40 meter yang dipasang pada pohon meranti.  Dari menara ini kita bisa melihat hujaunya Hutan Lindung Sungai Lesan dari atas ketinggian.

Kawasan ini juga merupakan tempat tinggal bagi Orangutan Kalimantan Timur.  Menurut survei terakhir, jumlah orangutan yang hidup di Lesan diperkirakan 190 ekor. Menurut Ebe dari TNC,  Orangutan Lesan adalah sub-jenis Pongo Pygmaeus Mario, yang hanya hidup di Kalimantan Timur.  Keberadaan Hutan Lindung Sungai Lesan sebagai habitat Orangutan semakin penting karena di sekitar kawasan ini telah menjadi areal perkebunan sawit.  Dulu air sungai tidak begini coklatnya, namun sejak penggusuran lahan untuk sawit tanah yang tererosi membuat sungai menjadi keruh, kata Pak Odang.   Sejumlah perkebunan telah beroperasi sejak 2006 di sekitar Hutan Lindung ini, seperti PT Berau Sawit Sejahtera (luas wilayah 6.000 ha lebih), PTGunta Samba Jaya(8.000ha lebih), dan PTYudhaWahana Abadi (hampir 12.000 ha). Belum lagi beberapa HPH seperti PT Mardhika Insan Mulia dan PT Karya Lestari. dan  PT Belantara Pusaka (luas 2.500 ha).  Praktis yang tersisa hanyalah hutan lindung ini sebagai penyeimbang alam.

menara pengamatan

2 pemikiran pada “Menyusuri Sungai Lesan, Berau

  1. Keindahan Sungai Lesan sekarang hanya 1/10000000000nya….. Perusahaan kayu hanya ngambil kayu, habis kayu tutup. Trus, sapa yg nanam ? Imbasnya adalah banjir sepanjang Sungai Lesan sampai ke tanjung Redeb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s