Bertemu buluh perindu di Lore Lindu

Artikel ini dimuat di majalah Panorama edisi XVII 2010.

Terletak di Provinsi Sulawesi Tengah, taman seluas 217.991 ha ini menawarkan beragam pesona alam dan budaya. Terdapat Danau Lindu yang berpanorama cantik hamparan hutan yang dihuni flora fauna yang mengagumkan, serta patung-patung batu megalith setinggi 1.5 sampai 4 meter yang konon terkait dengan ritual penyembahan leluhur ribuan tahun yang lalu di Lembah Napu, Besoa dan Bada. Ratna Yulia Hadi & In’am Burhanuddin dari The Nature Conservancy (TNC) bercerita tentang kunjungan mereka ke surga tropis ini.

Suasana pagi itu sangat cerah. Hembusan udara yang bersih dan cukup sejuk menyeruak dan memenuhi paru-paru ketika langkah kaki menapak keluar dari pintu penginapan kecil bernama Pesanggrahan di Desa Mataue, Kabupaten Sigi. Perjalanan menuju Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu belum dimulai, namun keindahan sudah terbayang di pelupuk mata.

Dengan mengendarai mobil selama sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai juga di Sidaunta. Desa ini merupakan pos untuk naik dan turun ke Danau Lindu dan terletak sekitar 70 km dari kota Palu, Sulawesi Tengah dengan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Terlihat beberapa ojek motor, satu-satunya alat transportasi yang tersedia disini,  menunggu para penumpang untuk menuju Danau Lindu.

Din … din … din … suara klakson motor terdengar hampir di setiap menit menuju Danau Lindu. Para pengemudi motor membuat tanda keberadaan dirinya. Perjalanan ini cukup mengasikkan dan menantang. Wajar saja karena jalan selebar 1,5 – 2 meter dan bersisian langsung dengan jurang tersebut berkelok-kelok. Jalan sempit ini dibuat untuk dua arah sehingga pengendara sepeda motor harus bergantian memberi jalan lewat kepada pengendara lain jika mereka berpapasan.

Perjalanan sepanjang 17 KM ini terus berlanjut. Cahaya matahari menerobos lewat celah-celah sempit dedaunan dan ranting berbagai jenis pohon yang menjulang tinggi. Mata kami menangkap hamparan warna hijau dan teduhnya hutan rimba di sepanjang jalan. Pikiran kami membayangkan kekayaan flora hutan khas Taman Nasional Lore Lindu yang akan ditemui sebentar lagi. Rasa letih ini pasti terbayarkan nantinya.

Di pertengahan jalan, para pengendara motor berhenti dan beristirahat sejenak untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Pada saat kami beristirahat, terdengar kepakan sayap yang cukup keras dari atas pohon, tetapi sayang burung itu tidak tampak oleh mata. Terkagum karena bunyi kepakan sayapnya yang begitu keras, kami dan beberapa kelompok pengendara sepeda motor berhenti mengobrol dan mendengarkan dengan seksama kepakan sayap tersebut. Beberapa orang berusaha untuk mencari dari arah mana suara itu berasal. Lore Lindu memang terkenal sebagai rumah untuk setidaknya 267 spesies burung, sebuah angka yang cukup besar untuk sebuah kawasan taman nasional.

Setelah satu jam duduk diatas motor, akhirnya jalanan mulai menurun dan terlihat hamparan sawah di bawah perbukitan yang hijau tertutup pohon. Melewati desa yang ada di dalam Taman Nasional Lore Lindu, akhirnya sampai juga di tujuan. Kami tiba di tepi Danau Lindu yang berada pada ketinggian sekitar 900m dpl (meter di atas permukaan laut) dan mempunyai luas sekitar 3,499 hektar. Danau ini termasuk dalam kelas danau tektonik dan merupakan danau terbesar ke-8 di Sulawesi jika dilihat dari segi luas permukaannya.

Terlihat kesibukan para nelayan yang sedang tawar-menawar harga dengan para pedagang ikan. Tampak pula berjejer deretan perahu kecil warna warni sedang bersandar di pinggir danau. Danau Lindu terkenal sebagai penghasil ikan air tawar, khusunya Mujair, terbesar di propinsi Sulawesi Tengah. Aktivitas penangkapan ikan ini menjadi salah satu andalan masyarakat di sekitar Danau Lindu untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun perekonomiannya. Tilapia Mosambica ini sebenarnya berasal dari luar ekosistem danau ini dan baru diperkenalkan pada tahun 1950-an. Sayang, meski bernilai besar bagi ekonomi masyarakat, keberadaannya justru mengakibatkan tergusurnya spesies ikan asli di sana.

Selain menghasilkan ikan air tawar, Danau Lindu juga merupakan habitat bagi tumbuhan dan hewan endemis khas Sulawesi. Beberapa fauna yang bisa ditemukan di kawasan Danau Lindu adalah monyet hitam sulawesi (Macaca Tonkeana), Tarsius (Tarsius Dianae), burung Rangkong (Rhyticeros Cassidix) dan Anoa (Bubalus Quarlesi). Selain itu fauna lain yang bisa dinikmati ketika berada di Danau Lindu adalah beragam burung air yang akan memesona indera.

Danau Lindu merupakan bagian dari ekosistem lahan basah (wetland) yang kaya akan keanekaragaman hayati terutama burung perairan. Disekitar danau banyak terdapat rawa-rawa berlumpur yang sangat disukai oleh burung air. Salah satu tempat terbaik untuk mengamati burung-burung air adalah desa Langko dengan bentang areal persawahan dan penggembalaan ternak masyarakat.  Karena pengaruh limpahan air dari sungai yang mengalir menuju danau, tanah selalu tergenang dan membentuk sebuah daratan lumpur becek yang ditumbuhi rumput rawa atau herba (tumbuhan) diatasnya. Dari kejauhan kita bisa mengamati tingkah laku burung bangau Sandang-lawe (Ciconia Episcopis) berjalan tenang diatas rumput atau Cangak Merah (Ardea Purpurea) yang tegak berdiam mematung menyusupkan kepalanya di antara daun rumput rawa. Rimbunnya pepohonan yang tumbuh dipinggir danau digunakan oleh kelompok burung Kuntul Kerbau (Bubulcus Ibis) yang bulu putihnya terasa amat kontras dengan hijaunya daun untuk membuat sarang. Kehidupan burung-burung air disini nyaris tidak terusik oleh kegiatan manusia, karenanya mereka dapat berkembang biak dengan nyaman. Masyarakat Adat Lindu tidak ada yang memburu atau menembak burung-burung air ini.

Pukul 06.00-09.00 WIB adalah waktu terbaik untuk mengamati burung air di Danau Lindu. Anda bisa menyaksikan sekawanan Belibis (Dendrocigna Arquata), Kuntul Kerbau (Bubulcus Ibis), atau Pelatuk Besi (Plegadis Flacinellus) terbang dalam kelompok besar untuk berpindah tempat mencari makan. Di samping itu Anda juga dapat menikmati keindahan landscape Danau Lindu di pagi hari yang bias airnya menghasilkan warna jingga. Kawasan ini menjadi rumah bagi beberapa spesies burung migran yang mengalami pergantian musim di Asia Timur. Pada waktu tertentu Trinil Pantai, Kedidi, dan Cerek bisa dijumpai sedang sibuk mencari makan, mematuk-matukkan paruhnya di hamparan pasir Danau Lindu.

Untuk mengenal Taman Nasional Lore Lindu secara keseluruhan dibutuhkan waktu setidaknya tiga hingga empat hari.  Anda pun dapat mengikuti kegiatan masyarakat setempat, seperti yang kami lakukan, dengan mengunjungi Desa Bobo yang berada di sekitar Taman Nasional Lore Lindu. Desa ini dapat dijangkau dengan 45 menit perjalanan menggunakan kendaraan umum yang tersedia di terminal Petobo, Palu. Jika sudah sampai di sini mengunjungi peternakan lebah yang dikelola oleh kelompok tani setempat adalah hal yang wajib untuk dilakukan.

Kami langsung melangkahkan kaki menuju salah satu rumah penduduk yang kebetulan menjadi ketua kelompok peternak lebah madu.  Aroma biji coklat yang sedang dijemur terasa diseputar rumah. Terlihat beberapa spot kotak rumah lebah madu di taman depan kediaman Pak Alimun dan keluarganya yang berpohon rindang.  Sambil duduk santai, Pak Alimun bercerita tentang usaha mereka untuk mengembangkan peternakan lebah dan perkebunan coklat tanpa harus merusak hutan.

Setelah berbincang-bincang dengan pak Alimun, keluarga, dan beberapa anggota Lembaga Konservasi Desa (LKD), kami keluar rumah dan segera mendekat ke salah satu kotak rumah lebah madu. Kami ingin tahu bagaimana rasanya madu segar yang didapat langsung dari sarangnya. Tampak pak Alimun dengan “topi perang” nya yang berwarna biru dan senjata yang mengepulkan asap berusaha untuk menjinakkan lebah-lebah yang ada didalamnya. Pak Alimun tampak biasa, bahkan tidak terbatuk-batuk dengan asap yang mengepul dan hampir menutupi wajahnya. Setelah beberapa menit, Pak Alimun mengangkat salah satu bingkai kayu dan tampaklah warna kuning  keemasan royal jelly dan beberapa lebah yang masih menempel. Kemudian pak Alimun meletakkan royal jelly tersebut ke dalam tempat madu dan membiarkan kami mencicipi madu tersebut. Manis rasa buah segar terasa dilidah ketika mencicip madu dari peternakan pak Alimun.

Dalam satu tahun, Pak Alimun dan kelompok taninya bisa memanen madu sebanyak tiga kali dan dijual kepada masyarakat. Biasanya sebelum panen sudah ada pembeli yang memesannya. Karena kapasitas produksi madu Pak Alimun masih terbatas, madunya selalu habis terjual. Usaha ternak madu ini cukup menambah penghasilan pak Alimun sebagai petani coklat di sekitar Taman nasional Lore Lindu.

Pak Alimun dan kelompok masyarakat di desa Bobo bekerja sama dengan TNC menanam pohon pakan lebah di di tapal batas Taman Nasional Lore Lindu sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan produksi lebah madu. Hal ini berkaitan erat dengan kesepakatan konservasi masyarakat untuk tidak melakukan perambahan ke hutan untuk menambah penghasilan. Penanaman pohon pakan yang dilakukan oleh anggota LKD tersebut selain sebagai tanda tapal batas taman nasional juga dapat berfungsi sebagai penyedia pakan untuk lebah-lebah tersebut. Menariknya, batas hidup tersebut ditanam berurutan pada empat pohon secara paralel dan untuk mengetahui apakah tapal batas taman nasional tetap ada pengamatan melalui satelit dapat  membuktikannya.

Aktivitas birds watching memang menjadi primadona Taman Nasional Lore Lindu dan sekitarnya. Berdasarkan survey tahun 2005 yang dilakukan oleh The Nature Conservancy dan Celebes Birds Club, Taman Nasional Lore Lindu merupakan rumah untuk 267 species burung atau 70% dari 384 species burung yang ada di pulau Sulawesi. Di tempat ini, bird watching lebih banyak dilakukan oleh turis dari luar negeri. Mereka datang dari jauh umumnya hanya untuk melihat jenis tertentu saja terutama jenis endemik Sulawesi yang tidak ditemukan ditempat lain di dunia. Biasanya dalam satu musim liburan bulan Juni-Juli para turis ini datang dalam rombongan.

Salah satu tempat yang paling favorit untuk mengamati burung adalah Puncak Dingin dan Danau Kalimpaa. Keduanya berada di kaki gunung Rorekatimbu, dimana kita bisa dengan mudah menjumpai burung khas Sulawesi yang hidup di ketinggian. Tempat ini dapat ditempuh dengan mobil umum dari Palu ke Desa Wuasa di Lembah Napu dalam waktu sekitar 3 jam. Untuk menuju Puncak Dingin dari Danau Kalimpaa para pecinta burung bisa berjalan kaki naik menuju daerah tersebut. Akomodasi seperti penginapan dan pemandu burung bisa didapat di Desa Wuasa yang juga merupakan Ibukota Kecamatan Lore Utara, Poso. Beberapa jenis burung endemik lainnya adalah burung Rangkong Kepala Merah (Rhyticeros Cassidix), Berkik Gunung Sulawesi (Scolopax Celebencis), dan Anis Geomalia (Geomalia Heinrichi).

Di Puncak Dingin terdapat sarang burung misterius Taktarau Iblis. Burung ini disebut misterius oleh beberapa peneliti karena sangat sulit dijumpai dan banyak menyimpan cerita berbau mistis.  Masyarakat lokal di daerah lembah Napu menamakannya si pencabut mata “Toroku” dan mereka pun takut bila melihat burung satu ini karena dihubungkan dengan mistis. Burung ini punya beberapa nama. Orang Inggris memberikannya dua nama, yaitu Heinrich’s Nightjar serta Satanic Nightjar. Sedangkan nama ilmiahnya adalah Eurostopodus Diabolicus (arti dari diabolical adalah kejam).

Perjalanan untuk menemukan hal-hal yang menarik sepertinya tidak akan habis di Taman Nasional Lore Lindu. Karena keanekaragaman flora dan fauna yang dimilikinya tidak heran jika taman nasional ini mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai World Biosphere Reserve pada tahun 1997.

Selain menyimpan keunikan dan kekayaan flora dan fauna yang luar biasa, taman nasional ini juga menyimpan kekayaan budaya yang layak untuk dikagumi. Di beberapa desa yang berada di dalam taman nasional itu, kita bisa menemukan megalith berupa patung-patung sarcophagus berukuran besar. Kehadiran megalith ini membuktikan keberadaan sebuah masyarakat yang terorganisir dengan baik dan mampu melakukan kegiatan bersama.

Salah satu area yang menyimpan kekayaan budaya ini adalah desa Bariri. Desa ini dapat di jangkau dengan 5 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dari kota Palu. Jika sedang menikmati birds watching di Danau Kalimpaa dan Puncak Dingin,  Anda dapat langsung menuju ke Desa Doda untuk menginap semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke desa Bariri. Lokasi megalith dapat dijangkau dari Desa Doda dengan berjalan kaki selama 1 jam.

Setelah keluar dari mobil dan menginjakkan kaki di desa Bariri yang terletak di sebuah lembah yang indah, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki di jalur setapak desa yang cukup lebar dan bersisian dengan hamparan sawah yang sudah menguning. Boneka-boneka sawah dan berbagai warna rumbai-rumbai tampak bergerak untuk mengusir burung-burung yang berusaha mencari makan di sawah. Langkah kaki terasa semakin ringan menuju area megalith dengan pemandangan indah di bawah langit yang begitu cerah dan biru.

Melewati pematang dan menyeberangi jembatan dari sungai berbatu yang jernih, akhirnya sampai juga ke dataran yang begitu luas dan dibatasi dengan lembah yang hijau. Di tempat inilah banyak megalith terletak. Tampak megalith berbentuk seperti tempayan air yang begitu besar yang disebut Kalamba. Selain megalith berbentuk menyerupai tempayan air yang super besar setinggi 2.5 meter dan mengelompok tersebut, tampak terlihat megalith yang menyerupai wajah manusia dan lempengan batu dengan patung berbentuk katak diatasnya. Usia dari patung-patung megalith ini belum ditentukan secara pasti. Para arkeolog memperkirakan megalith-megalith tersebut berumur sekitar 700 – 3000 tahun.

Keberadaan sekitar 500 megalith telah diidentifikasi di Lore Lindu dan mungkin masih banyak yang belum ditemukan atau tercatat. Sayangnya, banyak patung-patung batu dengan ukuran relatif kecil menjadi sasaran pencurian oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Beberapa megalith, terutama yang berasal dari Lembah Napu pernah ditemukan dijual di toko-toko antik di Jakarta dan Bali. Untungnya masyarakat yang sudah mengetahui tentang pentingnya kekayaan budaya ini melindungi, menjaga dan tidak memindahkan megalith yang ada, termasuk yang berada di kebun-kebun mereka karena memang beberapa megalith berada di desa Bariri dan Desa Betue.

Setelah menghabiskan waktu menikmati hamparan megalith di lembah Besoa, tak terasa warna jingga sudah memayungi dan mengingatkan kami untuk segera kembali pulang ke kota Palu untuk kemudian keesokan harinya pulang ke Jakarta. Pengalaman beberapa hari di Taman Nasional Lore Lindu untuk menikmati indahnya bentang alam Taman Nasional Lore Lindu, Danau Lindu yang berwarna kuning kemerahan di pagi hari, budaya ribuan tahun yang masih terjaga, serta bercengkerama dengan penduduk yang bersemangat menceritakan indahnya hutan dan nikmatnya memiliki hutan yang terjaga sambil menikmati manisnya madu, akan menjadi catatan indah yang sulit untuk dilupakan.

Penulis:

Ratna Yulia Hadi

Sejak tahun 2008 bergabung dengan The Nature Conservancy (TNC). Praktisi bidang komunikasi dan kehumasan. Mempunyai hoby travelling dan fotografi serta mencintai kegiatan di alam terbuka.

In’am F. Burhanuddin

Saat ini aktif di lembaga konservasi alam – The Nature Conservancy – kantor Palu  Sulawesi Tengah. Bergabung dengan TNC sejak 2006.  Banyak bergiat  dalam usaha  kampanye dan pendidikan konservasi untuk menyelamatkan hutan Sulawesi  yang sangat penting bagi kehidupan manusia.   Disamping itu juga terlibat dalam berbagai penelitian keanekaragaman hayati terutama di Taman Nasional Lore Lindu serta Cagar Alam Morowali Sulawesi Tengah.

***

Artikel ini dimuat di majalah Panorama edisi XVII 2010.

Satu pemikiran pada “Bertemu buluh perindu di Lore Lindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s