Kesenian Musik Bambu dari Lore Lindu

musik bambu sulawesi tengah Di desa-desa di sekitar Taman nasional Lore Lindu terutama di daerah Lore, Moment Agustusan merupakan momen untuk menampilkan berbagai kesenian tradisional mereka. Untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, salah satu kesenian yang dilombakan adalah musik bambu.   Ajang ini diikuti oleh grup musik bambu yang merupakan perwakilan dari desa masing-masing.  Sebelum acara lomba, desa-desa akan riuh rendah dengan alunan musik dari intrument bambu.  Mereka berlatih keras agar bisa menjadi juara.  Menurut salah satu teman yang merupakan masyarakat asli di Lore Utara, ada budaya yang berkembang di masyarakat, bahwa masyarakat Lore sangat serius dan tidak main-main bila menyangkut acara perlombaan. Tidak peduli ajang di tingkat kampung, kecamatan atau tingkat di atasnya.

Sebuah grup musik bambu terdiri dari banyak pemain, meliputi perempuan dan laki-laki.  Alat musik dibuat sendiri oleh masyarakat, dan di tiap desa ada yang ahli dalam membuat alat musik tiup ini.  Bentuknya juga macam-macam, bahkan ada yang mirip terompet besar namun dibuat dari bambu.   Grup ini mempunyai seorang dirigen untuk mengatur agar musik selaras dan harmoni.   Instrument suling yang kecil biasanya dimainkan oleh para wanita sedangkan para laki-laki memainkan instrument yang besar. Nada-nada yang dimainkan bukanlah nada pentatonik namun nada diatonik seperti alat musik pada umumnya.   Selain untuk lomba, musik bambu juga dimainkan pada saat penyambutan tamu atau perayaan-perayaan lainnya.  Sebagai warisan budaya, penyebaran Musik bambu ini hampir merata di seluruh Pulau Sulawesi dari utara sampai selatan.

Satu pemikiran pada “Kesenian Musik Bambu dari Lore Lindu

  1. kelompok musik bambu, juga dapat dijumpai di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan. Agustus 2009, masih tersisa 20 an kelompok musik bambu di kampung kampung kaki gunung latimojong ini. Musik bambu suling [seruling] dan BAS [terompet bambu], masih sering tampil saat agustusan.

    Ancaman kelompok musik ini, dikarenakan para pemainnya sudah berusia dewasa hingga lanjut usia. makin sedikit anak remaja dan generasi muda yang tertarik dan menggeluti untuk memainkan alat musik seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s