Indikator Kunci Monitoring Hutan Sulawesi

monitoring hutanDalam monitoring kualitas lingkungan hutan dapat ditentukan melalui indikator kunci spesies tertentu.  Pemilihan spesies kunci harus berdasarkan pada beberapa  pertimbangan, antara lain:

–          Jenis kharismatik atau yang dijadikan lambang. Digunakan sebagai subyek monitoring karena mereka menarik perhatian (atraktif) dan lebih mudah diperkenalkan kepada masyarakat. Dengan begitu bisa membangkitkan minat yang lebih besar terhadap upaya-upaya konservasi. Jenis-jenis yang kharismatik seringkali berada dalam keadaan terancam, dan mereka menjalankan fungsi ekologis bagi suatu daerah.

Contoh, burung Allo Rhyticeros cassidix maupun burung Allo kecil Penelopides exarhatus sama-sama menjalankan fungsi ekologis penting bagi hutan hujan dataran rendah dengan cara menyebarkan biji-bijian sehingga bisa membantu peremajaan hutan.

–          Jenis kisaran luas. Beberapa jenis binatang berkelana jauh dan dalam wilayah yang luas, ini berarti bahwa monitoring serta upaya-upaya konservasi harus mencakup wilayah yang luas. Di Sulawesi, Burung dan Ungulata tertentu memiliki wilayah yang luas (Ungulata = binatang berkuku, seperti Rusa dan Babi).

Contoh, Burung Allo memiliki Teritori dan Homerange yang lumayan luas (Teritori = daerah-daerah inti yang ditempati oleh individu/kelompok; Homerange = keseluruhan wilayah yang dipakai oleh binatang termasuk teritorinya). Dengan demikian, jika tujuan akhir kita melindungi habitat-habitat atau areal-areal yang luas, sebaiknya jangan memilih Tarsius atau Kuskus karena mereka memiliki wilayah yang sangat terbatas.

–          Jenis tersebar luas. Banyak jenis burung menempati beragam type habitat dan dapat ditemukan di seluruh wilayah Sulawesi. Burung-burung seperti Srigunting, serindit, disamping terdapat dihutan primer dan sekunder, juga ditemukan didaerah-daerah yang dihuni manusia. Namun, mereka tidak bisa bertahan hidup di lingkungan yang benar-benar miskin. Jadi memonitor jenis-jenis yang umum seperti ini dapat memberi kita ambang batas dimana ekosistem yang lebih luas menjadi rusak.

–          Jenis terancam.  Jenis yang diketahui terancam, baik secara global maupun secara regional. Kita juga harus memonitor jenis-jenis yang terancam ini karena mereka bisa punah kapan saja.

–          Jenis indikator.  Jenis yang dapat dipakai sebagai barometer bagi ekosistem. Perubahan dalam populasi, distribusi atau ekologi jenis indikator  bisa dijadikan pertanda adanya perubahan-perubahan ekosistem yang lebih luas. Secara umum jenis-jenis indikator merupakan jenis yang mudah diidentifikasi, peka dengan perubahan lingkungan hutan, dan menarik bagi para pemangku kepentingan. Seringkali, jenis-jenis indikator ini diklasifikasikan sebagai terancam, karena umumnya merekan tergantung pada suatu habitat yang khusus dan dengan demikian sangat peka terhadap perubahan lingkungan.

Spesies Burung yang bisa dijadikan indikator kunci monitoring hutan di Sulawesi antara lain:

1. Elang Sulawesi Spizaetus lanceolatus

Elang Sulawesi merupakan salah satu Burung pemangsa yang mempunyai peran sangat penting dalam hutan hujan sebagai alat untuk pengontrolan populasi Burung-burung kecil lainnya. Selain itu Elang Sulawesi sebagai Burung endemik sulawesi.

2. Pergam Tutu Ducula forsteni

Burung ini merupakan Endemik di Sulawesi dan mempunyai daerah penyebaran terbatas hanya di hutan hujan pegunungan. Sehingga dapat membantu secara ekologi sebagai penyebar biji-bijian di daerah pegunungan (Birdlife, 1995).

3. Serindit Sulawesi Loriculus exilis

Burung ini dapat hidup di habitat primer dan sekunder, juga dapat ditemukan didaerah-daerah ada manusia seperti di perkebunan, tapi tidak bisa hidup didaerah yang sangat miskin. Merupakan Burung Endemik dataran rendah di Sulawesi dengan status Dilindungi (Birdlife, 1995)

4. Burung Allo Rhyticeros cassidix

Burung ini sering digunakan sebagai objek monitoring karena mereka menarik, biasanya digunakan sebagai lambang daerah atau beberapa lembaga. Dan mempunyai kisaran yang luas, berkelana jauh dalam wilayah yang luas juga dapat menjalankan fungsi yang ekologis bagi suatu daerah dengan membantu dalam peremajaan hutan lewat penyebaran biji-bijian khususnya hutan hujan dataran rendah. Sehingga dengan memonitoring Burung ini kita dapat mengetahui sampai sejauh mana kerusakan hutan yang terjadi.

5.  Pelatuk Sulawesi Mulleripicus fulvus

Merupakan Burung pemakan serangga biasanya sering mencari makan di batang-batang pohon, Burung ini dimasukkan ke dalam indikator dalam monitoring karena mempunyai peran penting dalam pemeliharaan pohon dan perkembangan populasi dari serangga.

6.  Pelanduk Sulawesi Trichastoma celebense.

Burung ini sama dengan Burung Pelatuk Sulawesi, hanya bedanya Pelanduk Sulawesi biasanya mencari makan di bawah atau di atas tanah, pada vegetasi bawah.

Source:

Laporan Monitoring Burung TNLL Tahun 2005 by Idris Tinulele (CBC)
kerjasama : Celebes Bird Club, TNC, BTNLL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s