Wisata Ke Bukit Kasih Tomohon

Di lantai 8 hotel Gran Central manado yang ada di bilangan jalan Sudirman Manado, kami dari perwakilan badan lingkungan hidup (BLH) yang ada di Sulawesi dan Maluku menjalani pelatihan dasar-dasar pengawas lingkungan hidup. Setiap hari, kami harus berkutat dengan berbagai macam peraturan perundangan di bidang lingkungan, dan tugas yang harus dikerjakan setiap hari pula. Dari provinsi Sulawesi Tengah, saya bersama Pak Baso Nur Ali dan Astry dari BLH Kota palu ditugaskan dari kantor masing-masing untuk mengikuti pelatihan dasar-dasar pengawas lingkungan hidup yang digelar oleh PPE Sumapapua ini selama 3 minggu. Jadwal yang begitu padat membuat saya biasa terkantuk-kantuk saat siang habis makan, dan beberapa kali keluar mencuci muka. Sudah penyakit bawaan habis makan ngantuk.

Setelah menjalani minggu pertama, pada hari Minggu tanggal 13 November 2011, kami berkesempatan untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas menjalani pelatihan di kota Manado yang cantik ini. Bertujuh, ditemani ibu Fina dari BLH Provinsi Sulawesi Utara yang juga berperan sebagai guide lokal, kami menyewa sebuah mobil avanza yang di piloti sendiri oleh Pak Ahmad Saikhu dari BLH Prov.Sulawesi Selatan. Sambil menuju lokasi kami mampir dulu membeli bekal nasi kuning Saroja yang terkenal itu, bungkusnya unik dari daun palem muda mungkin sejenis lontar yang berwarna kuning pucat. Kami pun segera meluncur ke arah Tomohon yang berhawa sejuk. Sementara itu teman-teman yang lain sudah menuju ke Bunaken.

Kali ini kami mencoba mengunjungi tempat wisata yang bernuansa spiritual yang ada di Sulawesi Utara. Tujuan pertama kami adalah bukit doa, sebuah tempat yang biasa digunakan para penganut agama Katolik untuk berdoa di depan goa Maria. Di kesejukan udara pegunungan, tempat ini menghadikan suasana yang menyegarkan. Taman-taman tertata rapi, bersih dan indah dan dikelola dengan baik. Sebuah ampitheater yang indah melengkung berhiaskan rumput hijau menjadi sajian yang tidak biasa kita jumpai. Kami pun langsung berfoto ria di tempat ini.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke bukit kasih. Kami berhenti sejenak di kawangkoan untuk membeli kacang Kawangkoan yang terkenal itu dan 2 sisir pisang sebagai snack di perjalanan. Mendekati bukit Kasih, dari kejauhan sebuah salib raksasa yang berwarna putih nampak mencolok menjulang diantara hijaunya bukit. Sesaat setelah memarkir mobil, tiga orang anak-anak yang berwajah polos, langsung menunjukkan jalan untuk kami. Sampai di gerbang salah seorang anak langsung menawarkan bantuan “Sini pak saya fotokan di depan pintu gerbangnya” katanya. Kemudian anak yang satunya berkata dengan bangga, “Ini tangganya 2435 kalo sampai atas, kalau mau sampai tempat ibadah 5 agama sekitar 900 tangga jumlahnya”.

Tidak jauh dari gerbang masuk ada sebuah gardu pandang dan pos jaga. Dari pengeras suara seorang penjaga meminta kami untuk mengisi buku tamu walau jarak kami dengan penjaga itu hanya 3 meter saja. Dari gardu pandang ini terlihat sebuah tugu berwarna coklat dengan latar belakang asap putih mengepul dari kawah belerang. Beberapa penjual cinderamata segera menghampiri kami menawarkan berbagai asesoris dan juga topi. Setelah mengisi buku tamu kami segera mendaki anak tangga demi anak tangga di naungi mendung langit yang kian menebal .

Anak-anak tadi dan beberapa penjual cenderamata menemani kami mendaki tangga. Tidak lama mendaki kami sampai di gardu pandang lagi. Oh ya anak-anak tadi bernam Amel, rani dan Katrina. Seorang anak yang bernama Amel dengan ramah menawarkan bantuan untuk memotret kami. Pak yunus dan pak Ahmad yang membawa kamera poket segera menyerahkan kameranya pada mereka. “Yak bagus Pak fotonya..jadi keliatan tambah muda” katanya seusai memfoto, membuat kami tergelak-gelak tertawa. Mereka pun jadi juru foto kami agar muka kami terekspose semua. Mereka memiliki trik memotret yang unik, agar foto nampak spektakuler. Ada yang difoto nantinya kayak raksasa memegang tugu, atau foto agar tampak melayang di atas awan.
Kami memutuskan tidak lanjut sampai ke atas karena jaraknya cukup jauh, cuaca hujan dan licin dan yang utama nafas sudah ngos-ngosan. Setelah hujan reda, pendakian dilanjutkan ke tempat ibadah lima agama. Tempat ini seakan menjadi penanda bahwa toleransi beragama sangat tinggi disini, semua bisa berdampingan dengan damai . Setiap manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan jiwa secara transendens akan Sang Pencipta.
Disinilah tempat pose melayang di atas awan. Setelah berpose ala superman, di tempat ibadah 5 agama yang berdekatan itu, kami pun yang rata-rata beragama islam segera menunaikan sholat ashar dan dhuhur yang di jama’ di masjid. Ada tempat wudhu di belakang masjid mengucur dari pancuran yang tanpa henti mengalirkan air yang dingin. Mukena untuk muslimah pun banyak tersedia tersampir di tali yang digantung di dinding. Setelah beribadah dan bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat-Nya, kami segera turun karena hujan rintik-rintik mulai menggutur. Dengan hati-hati kami menuruni tangga yang cukup curam dan licin. Dengan ramah anak-anak itu menawarkan rendam kaki air panas dan pijit refleksi di bawah. Setelah naik turun 900 anak tangga, betis memang menjadi tegang, dan tawaran rendam kaki dan pijit seakan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Di bawah tampak sungai yang mengalir mengepul karena panasnya. Jejeran warung –warung beratapkan terpal berwarna biru menawarkan sajian jagung rebus. Jagung-jagung ini direbus di sungai yang mendidih, kamipun memesan jagung itu, dan memang matang dan tidak ada bau belerang sedikitpun seperti yang saya bayangkan. Padahal di sungai ini menyengat sekali bau belerangnya.

Banyak pengunjung yang mengabadikan moment kunjungan dengan berfotoria berlatar belakang asap belerang dan dinding gunung yang berwarna putih.   Dan kalau anda capek setelah mendaki, dengan uang Rp 30.000 anda bisa menikmati relaksasi rendam kaki dan pijat refleksi. Anak-anak tadi pun sibuk mencari ember dan mengisinya dengan air panas dari sungai. Setelah itu merekapun melanjutkan aksi dengan memijit tumit kaki dengan lincahnya. Setelah otot kaki menjadi rileks kamipun beranjak pulang ke manado lagi meninggalkan bukit kasih ini dan bersiap menerima materi pelatihan esok hari.

###

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s